Yuk Bersama Stop Bullying dengan Program Roots

Yuk-stop-bullying-dengan-program-roots

Gadis itu menangis di pangkuan ibunya. Air mata mengalir deras di pipinya. Bahunya terguncang. Sementara sang ibu hanya bisa mengusap kepala putri kesayangannya itu.

Di tengah isak tangisnya, si gadis bercerita bahwa teman-teman di kelas telah mengejek tubuhnya yang tinggi. Bahkan, ada anak yang menyeletuk tentang ayahnya yang telah tiada. 

Mendengar kisahnya, hatiku sedih. Apalagi, si gadis adalah peserta didik yang ada di kelasku. Namun, aku hanya bisa menguatkan hati si gadis agar ia tak patah semangat dan memanggil pelaku bully agar peristiwa ini nggak terulang lagi.

Apa sih Bullying atau Perundungan itu?

Perundungan adalah perilaku tidak menyenangkan baik secara verbal, fisik, ataupun sosial di dunia nyata maupun di dunia maya. 

Perilaku tidak menyenangkan ini menyebabkan rasa nggak nyaman, sakit hati, dan tertekan bagi korban. Bullying dapat dilakukan oleh perorangan atau kelompok. Biasanya, bullying dilakukan oleh orang-orang terdekat dengan korban. 

Salah Satu Akibat Bullying

Seperti kasus bullying yang terjadi di sekolah baru-baru ini viral di media sosial. Seorang guru SD yang menyebarkan perilaku bullying di kelasnya di wa. Tindakan yang menjadi perhatian KPAI karena sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar. Ramah anak.

Padahal, kita mengetahui bahwa perundungan ini dapat menjadi benih dari tindakan kekerasan lain, seperti: tawuran, intimidasi, pembunuhan, dan lain-lain.  

Aku pun teringat tawuran antara siswa SMK di Bandar Lampung yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Kejadian yang berawal dari seorang siswa dari SMK yang dibully oleh SMK yang lain. Hingga, si korban melapor teman-temannya. Mereka pun mengajak kelompoknya di sekolah untuk membalas dendam. Dan, tawuran pun terjadi. 

Untungnya, informasi tawuran sudah bocor ke grup guru di sekolah. Lalu, pihak kepolisian, guru dan wali murid  bersama-sama membina anak-anak tersebut di polsek. Dan, setelah menandatangani surat perjanjian, mereka diijinkan pulang bersama orang tua masing-masing.

Keesokan harinya, mereka mengaku padaku bahwa sebagian besar dari mereka hanya ikut-ikutan aja. Mereka nggak mau dibully, diolok-olok sebagai seorang pengecut kalau nggak ikut tawuran. 

Fakta tentang Bullying


Mengetahui sensitifnya masalah ini, sebagai seorang pendidik, aku pun merasa ikut bertanggungjawab untuk mencegah bullying terjadi di sekolah. 

Apalagi, menurut data, sekitar 41 % pelajar usia 15 tahun di Indonesia pernah mengalami bullying.  Bahkan, menurut data PISA 2018 tersebut, bullying bisa terjadi beberapa kali dalam satu bulan. 

Lalu, kita pasti bisa membayangkan dampak bullying bagi korban. Ia akan merasa takut, tertekan, dan putus asa. Perasaan yang nggak nyaman. Apalagi jika ada kombinasi kekerasan fisik, verbal, dan sosial di dalamnya.

Nah, bagi yang pernah nonton film Karate Kid pasti bisa memahami bagaimana efek bullying bagi korban. Bahkan drakor Penthouse yang baru usai tayang di tivi pun menggambarkan bagaimana korbàn bully merasakan derita akibat bullying. Penderitaan yang dapat berujung depresi dan bunuh diri.

Program Roots


Karena itulah, di tahun 2018 Kemendikbudristek bekerjasama dengan UNICEF Indonesia dan mitra melaksanakan program pencegahan perundungan dan kekerasan berbasis sekolah melalui program Roots.

Di tahun 2021, Program Roots Indonesia ini melibatkan siswa sebagai agen perubahan bdan guru sebagai fasilitator di lebih 1.800 SMP dan SMA Penggerak serta SMK Pusat Keunggulan di seluruh Indonesia.  

Alhamdulillah. Menurut data, sejak diluncurkan di tahun 2017, program Roots telah mengurangi kasus bullying sebanyak 30%. 

Harapannya, program Roots ini dapat menyebarkan kampanye perilaku baik dan kebaikan di sekitar kita.

Yuk-bersama-stop-bullying-dengan-program-roots
Fasilitator guru dan agen perubahan SMK BLK Bandar Lampung

Apa sih Peran Siswa sebagai Agen Perubahan?


Agen perubahan adalah 30 siswa yang dipilih dari tiap sekolah untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dan anti kekerasan di sekolah.

Prosesnya pemilihan agen perubahan dilakukan oleh guru dan siswa di sekolah. Tentu saja, siswa-siswi yang terpilih adalah anak-anak yang mau melakukan tugas ini dengan senang hati. Tanpa paksaan.

Di SMK BLK Bandar Lampung, dari sekitar 1.000 peserta didik, hanya sekitar 123 siswa yang mengajukan diri. Lalu, jumlah siswa ini menyusut hingga tinggal 21 siswa. Untungnya, saat pengukuhan agen perubahan kemarin, target siswa dapat terpenuhi.

Apa sih Peran Guru sebagai Fasilitator?


Sebagai fasilitator, seorang guru bertujuan memfasilitasi diskusi yang dilakukan bersama agen perubahan dalam pertemuan Roots setiap minggunya.

Peran fasilitator guru adalah memfasilitasi siswa untuk melaporkan dan menindaklanjuti laporan perundungan atau kekerasan di sekolah.

Dalam diskusi 15 Modul Roots yang tersedia, fasilitator dan agen perubahan akan membahas program Roots dengan diskusi dan role play.  Lalu, agen perubahan akan melakukan kampanye lewat produk atau karya tentang anti bullying, seperti puisi, drama, lagu, komik, dan lain-lain.

Bagaimana sih Cara Pelaksanaan Program Roots ini?


Pelaksanaan program Roots ini berlangsung secara daring dan luring dan terbagi menjadi 4 tahap, yaitu:


1. Pelatihan Fasilitator Nasional. 

Di SMK BLK Bandar Lampung, pelatihan ini diikuti oleh dua fasilitator guru. Bu Dwi Mardiani dan Bu Artisa. Mereka mengikuti pelatihan online selama dua hari.

2. Pendaftaran Sekolah dan Fasilitator Guru

Pendaftaran dilakukan secara daring oleh sekolah. Nantinya, selain fasilitator guru, data agen perubahan pin akan terdaftar di dapodik dan data Kemendikbudristek. 

Selanjutnya, baik fasilitator guru dan agen perubahan akan memperoleh sertifikat. 

3. Survey Awal dan Pemilihan Agen Perubahan

Setelah pelatihan Fasilitator secara nasional, maka dibuatlah survey bagi siswa untuk memilih agen perubahan.

Survey ini dilakukan secara daring dengan menyebarkan angket google form di grup kelas.  Hingga, terpilih 123 siswa sebagai calon agen perubahan. Proses ini berlanjut hingga terpilih agen perubahan sebanyak 30 peserta didik.

Alhamdulillah, pada pengukuhan agen Perubahan kemarin, terpilihlah Nur Amin dari kelas X sebagai koordinator agen perubahan di SMK BLK Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2021. 

Hal yang bikin salut, meski pernah mengalami bullying, Amin bisa bangkit dan optimis untuk belajar. Bahkan ia dengan penuh percaya diri mampu bercerita tentang pengalamannya.

Ia berharap, nggak akan ada lagi korban perundungan seperti dirinya di sekolah.

4. Aktivitas Bersama Agen Perubahan

Nah, dalam usaha mempromosikan kebaikan dan mencegah terjadinya bullying di kalangan pelajar, maka program Roots pun diperkenalkan dalam aktivitas bersama agen perubahan.

Meskipun sekarang program Roots masih terbatas pada SMP dan SMA Penggerak serta SMK Pusat Keunggulan, kedepannya program Roots ini akan diterapkan di seluruh sekolah secara bertahap.

Untuk SMK di Bandar Lampung, program Roots mulai diimplementasikan di 31 SMK Pusat Keunggulan.  Termasuk SMK BLK Bandar Lampung.

Di SMK BLK Bandar Lampung, aktivitas ini dikoordinatori oleh ibu Artisa, guru Bimbingan Konseling. 

Apa sih Modul Roots itu?


Modul Roots adalah materi untuk Bimtek fasilitator guru yang terdiri dari 15 modul. Nantinya, fasilitator guru akan mengadakan pertemuan bersama 30 agen perubahan untuk diskusi terkait isi modul tersebut.

Dalam setiap diskusi modul, seorang fasilitator guru akan memfasilitasi proses diskusi, role play, dan kampanye karya dari agen perubahan. Tujuannya adalah mempromosikan tentang anti perundungan dan memutus rantai bullying di lingkungan anak.

Yuk-bersama-stop-bullying-dengan-program-roots
Nur Amin, koordinator agen perubahan SMK BLK Bandar Lampung 2021/2022


Dalam acara pengukuhan agen Perubahan kemarin, Nur Amin terpilih sebagai koordinator agen perubahan. SMK BLK Bandar Lampung Tahun 2021. 

Sebagai penyintas bullying, Amin berharap bisa turut menyukseskan program anti perundungan ini. 

Hingga, nggak akan ada lagi
 korban atau bully di sekolah dan anak-anak akan merasa aman dan senang untuk bermain dan belajar di sekolah. 

Mendengar ucapannya dan melihat senyum di matanya, hatiku bergetar. Dalam hati aku berdoa, "Semoga aku bisa membantu membimbing anak-anak ini untuk hidup mandiri dalam kondisi yang aman. Bebas dari bullying. Aamiin." 

Sumber data:

https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/merdekadariperundungan/

Komentar

Postingan Populer