Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

puisi

Memetik Bulan Sayang, aku tau kamu sedang tidur Tapi kamu tidak mati, kan? Seperti lalat yang ditepuk sepatu ibu itu Sekarang tergeletak di lantai, tak bergerak Sayang, kamu masih bernapas ? Mengapa tak kulihat deru ombak di dadamu Hanya lamat suara sengau dari hidungmu Menggelegar membelah siang yang terang Sayang, kamu masih bisa berjalan ? Kenapa tak kulihat derap langkahmu ? Kenapa juga larimu tak sekencang dahulu ? Apakah kakimu telah diamputasi ? Sayang, sungguh mati aku menunggumu Tetapi, kenapa jam di tanganmu seperti mati ? Bahkan sepertinya kau pun tak ingat akan nama mu Nama yang kau ucapkan hingga aku memujamu Sayang, namamu terlanjur ada di hatiku Aku tak bisa lupa saat angin menderu menyebutmu Membisikkan janji tentang matahari di saat malam Mengatakan bahwa bulan pun kan kau petik untukku Sayang, aku tetap mencintaimu sedalam lautan Yang buihnya kini teracuni limbah pabrik milikmu Yang ikannya kumakan dan masuk

Terima Kasih Pak Zakiy

Gambar
Hari ini pun berlalu lagi. Seperti kemarin. Kulihat pak Zaki menyiapkan anak - anak untuk mengikuti UNBK hari ke empat. Hari terakhir. Alhamdulillah. Dadaku berdegup. Merasakan betapa perjuangan pak Zakiy dan teman - teman untuk mempersiapkan UNBK sudah begitu maksimal. All out. Sungguh, aku kagum dengan keteguhan tim yang begitu solid ini. Meski begitu banyak masalah, semua dihadapi dengan senyum.

Puisi

                        Bumi Pilu Saat kukatakan padamu bunga akan mekar dan layu Bumi merenung Kau tersenyum dan berbisik 'Bagaimana bisa aku tahu, jika mata ku buta dan telinga ku tuli? Aku pun tak bisa rasakan angin yang berhembus, Aku mati rasa, katamu lagi Lalu, aku memandangmu dan berbisik lagi Jadi, bagaimana kamu bisa mengerti yang kukatakan? Kau tersenyum, dan berkata Benarlah mataku  buta, dan telingaku pun tuli. Bahkan, indraku pun mati rasa Tapi, hatiku seterang matahari Hingga ku dapat melihat dan mengerti dirimu Sepanas api yang membakar diriku Hingga dingin malam tak terasa Membakar rasa marah jadi doa Pada-Mu agar ku jadi lebih dekat Mengingat angin yang pernah meniup lembut kulitku Hingga ku bersyukur Yoharisna Bandar Lampung, 29 Maret 2019

Resensi buku karya Neny Suswati ‘Hafizd Rumahan’

Gambar
Resensi buku karya Neny   Suswati ‘Hafizd Rumahan’ 10 Maret 2019 #Resensi Buku ‘Hafizd Rumahan’ Kisah Keluarga Inspiratif, Mendobrak Pemahaman Milenia tentang Pendidikan Anak Oleh : Yoharisna Pendidikan di jaman milenia ini merupakan kata kunci meraih kesuksesan hidup. Pendidikan juga yang dapat mencerahkan kehidupan manusia, mencegah manusia jatuh dalam keterpurukan hidup. Menuntun manusia kepada jalan kebaikan. Jalan menuju Allah. Kata milenia sendiri, tak terpisah dengan generasi Y yang lekat dengan produk teknologi high end-nya, seperti gawai. Teknologi yang mengajak manusia untuk hidup lebih mudah, nyaman dan efisien. Teknologi yang memudahkan anak – anak mengakses pendidikan dengan mudah. Teknologi yang tanpanya, menurut kaum milenia, pembelajar dianggap tertinggal. Sayangnya, produk teknologi manusia juga mengalihkan perhatian manusia dari tujuannya dalam hidup, yaitu beribadah pada Allah. Pemikiran ini menjadi pertimbangan keluarga Abdurrohim dan Sit

Lampung Hijab Fair Day 20!9

Gambar
Acara Lampung Hijrah Fair yang di adakan di Balai Krakatau dari tanggal 1 -3 Maret 2019 ini berlangsung lancar. Aku sendiri ikut acara ini pada hari terakhir, minggu 3 maret 2019. Acara ini berlangsung hikmat di dalam gedung yang nyaman. Ustad pembicara sesi pertama ada 4 orang yaitu, ustad Mario, ustad Sukron, ustad Firman dan ustad Abizar.