Bullying dalam Novel The Bonesetter’s Daughter: Refleksi Kehidupan dalam Keluarga

Bullying-dalam-novel-the-bonesetter's-daughter


Seorang anak menangis saat  ibunya menjemputnya di sekolah. Ia sedih karena teman-temannya mengolok-oloknya karena kondisi fisiknya. Bayles memiliki bentuk wajah berbeda.

Ibu dari Bayles yang menderita dwarfisme itu biasanya hanya menyimpan tangis anaknya dalam hati. Namun, ia membagikan video anaknya agar para orang tua lebih aware dengan efek bullying bagi seorang anak. Perilaku yang seharusnya tidak dilakukan.

Bullying yang sayangnya bahkan dilakukan oleh teman terdekat dan keluarga yang seharusnya menghargai kita. Sikap yang menghasilkan kesedihan dan penyesalan yang berkepanjangan bagi tiap orang yang mengalaminya. Kesedihan yang nggak akan hilang meski waktu berlalu.

Baca juga Review Novel The Bonesetter's Daughter

Kisah Bayles ini mengingatkanku akan bullying dalam Novel the Bonesetter’s daughter. Kisah yang menjadi refleksi gimana bullying terjadi dalam kehidupan keluarga Bao Mu seperti udara yang bertiup. Gimana keluarga terkasih justru menebar luka dengan bullying kata-kata yang menyakitkan hati.

”Rambutku masih sehitam kulit chestnut gosong dan muka keriputku seputih isinya.” Nenek buyut pintar bicara. Satu kali dia menambahkan. “Lebih baik daripada berambut putih dan bermuka gosong,” dan semua orang tertawa, walaupun Bibi tersayang ada di ruangan itu. (hal. 174)

Keluarga dan teman dekat terkadang mengatakan kata-kata bully tanpa maksud apa pun. Mereka hanya berusaha menghangatkan suasana. Hanya bercanda.

Sayang, kata-kata itu bermata dua. Jika tepat menggunakannya akan membahagiakan pendengarnya. Bahkan memberinya motivasi hidup. Begitu pun sebaliknya, jika kita gagal menyaring kata-kata dengan baik, maka efeknya akan sangat fatal.

Ironisya, kegagalan ini sering terjadi di lingkungan kita dan menjadikan orang yang posisinya lebih lemah, seperti Bao Mu atau Bayles sebagai korban. Pelakunya adalah teman, nenek, sahabat, ayah, atau ibu sendiri. Ini menjadikan si korban merasa hidupnya nggak berguna atau beban bagi orang lain, hingga mereka mengalami depresi atau bahkan punya keinginan untuk mengakhiri hidupnya.


Bullying-dalam-novel-the-bonesetter's-daughter


Bullying di keluarga Bao Mu dalam Bonesetter's Daughter Novel

Bullying adalah tindakan atau perilaku yang dilakukan untuk menyakiti baik dalam bentuk verbal. psikologis, atau emosional serta bisa juga dalam bentuk fisik. Perilaku yang mungkin pernah kita lakukan atau kita terima dari orang lain.

Cyberbullying Research Center menyatakan bahwa bullying adalah bentuk agresi tanpa provokasi yang dilakukan berulang-ulang pada seseorang atau kelompok. Perilaku yang tendensinya lebih dari sekedar pelecehan.

Kita bisa ambil contoh Bao Mu yang mengalami penghinaan bertahun-tahun oleh nenek dan keluarganya karena wajahnya yang rusak. Mereka nggak hanya menghinanya, Bao Mu juga harus bertahan dengan sikap keluarganya yang menjauhinya karena nggak tega.

Bao Mu yang bertahun-tahun menahan kesedihan pun akhirnya memutuskan bunuh diri. Ia nggak ingin dirinya jadi penghalang kebahagiaan LuLing, anaknya. Bao Mu merasa nggak ada alasan buatnya untuk hidup.

Kisah Bao Mu merupakan contoh dari gimana bullying dapat merusak kehidupan seseorang. Kehidupan yang seharusnya sangat berharga. Padahal, nggak ada satu orang pun yang berhak merebut hak orang lain untuk hidup bahagia. Siapa pun dia.

Para ahli menyatakan bahwa bullying adalah sikap agresif yang nggak diinginkan yang dapat  dilakukan oleh sekelompok anak yang bukan saudara kandung. Sikap ini dapat mengakibatkan rasa sakit atau stress bagi korban. Luka yang nggak bisa disembuhkan oleh waktu.


Kenapa Bullying Berbahaya bagi Kesehatan Mental

Pernah mendengar seorang anak yang bunuh diri karena nilainya jelek? Padahal anak itu masih bersekolah di bangku SD. Menurut berita, ia merasa gagal dibandingkan saudaranya yang selalu mendapat nilai sempurna. Anak itu merasa gagal dan nggak merasa berharga untuk hidup.

Cerita anak ini mirip dengan kisah bullying yang Bao Mu alami. Ia menelan sikap buruk keluarganya selama bertahun-tahun. Hidup dalam kesedihan seorang diri.

Menurut makalah Britain tahun 2014 yang dilakukan pada 7.771 orang yang melapor pernah terekspos bullying di usia 7-11 tahun, didapati dampak pada korban, seperti:

1. Kecemasan berlebihan, depresi, dan kecenderungan bunuh diri

2. Level kesehatan rendah

3. Fungsi kognitif rendah

4. Level pendidikan rendah

5. Hidup sendiri/ tanpa pasangan

6. Support sosial rendah

7. Kepuasan hidup rendah

Penelitian lain menyatakan bahwa kecenderungan korban bully, terutama wanita akan menunjukkan gejala tanda-tanda  pembengkakan atau obesitas. Hal yang bisa jadi pemicu masalah kesehatan yang kronis.

Masalah kesehatan mental kronik yang juga dialami oleh Bao Mu. Ia jadi murung. Nggak pernah tertawa sejak kebakaran merusak sebagian besar wajahnya.

Baca Juga tentang Kekerasan Seksual Berbasis Gender

Selanjutnya, eksposure bullying di keluarga Bao Mu pun mempengaruhi LuLing dalam mendidik putrinya. Ruth Young. Dampak bullying pada Bao Mu yang mungkin bisa dimaafkan, tapi nggak hilang dalam ingatan LuLing.

Kepribadian LuLing mudah cemas. Ia juga nggak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Mudah curiga. Hal yang diperburuk dengan keberadaan LuLing di negeri asing. 

Sekilas Tentang The Bonesetter’s Daughter

Kisah ini ditulis oleh Amy Tan, seorang wanita keturunan China yang tinggal di tanah Amerika. Ia menulis tentang LuLing dan Ruth Young, yang tinggal jauh dari tanah leluhurnya. Jantung Abadi.

LuLing yang menyimpan banyak rahasia dalam hatinya selalu sulit menyatakan rasa cintanya pada anaknya. Ia kerap mengatakan kata-kata bullying yang bikin Ruth menangis. Kadang, Ruth merasa bahwa ibunya tidak mencintainya.

Ruth nggak tahu bahwa LuLing pun menyimpan kemarahannya sendiri. LuLing selalu merasa bahwa Ruth harus mengetahui apa yang ia rasakan. Tanpa  harus mengatakannya.

Bullying LuLing secara mental menjadikan Ruth tertekan. Nggak bahagia. Ruth nggak tahu gimana cara menjalani kehidupannya lagi.


Penyesalan dan Penerimaan dalam The Bonesetter’s Daughter

Ruth memandang LuLing dengan perasaan campur aduk. Ibunya yang dulu sering membandingkan dirinya dengan orang lain itu telah menua. Mulai pikun. Namun rasa cintanya penuh. 

Ruth terharu menerima hadiah dari LuLing, ibu yang ia pikir nggak sayang padanya. Rasa yang terbenam akibat kata-kata. Kesalahpahaman yang menggunung akhirnya hilang.

Ruth membaca kisah Bibi Tersayang di tangannya. Nenek yang belum pernah ia kenal. Air matanya menetes.

“Kami semua memanggilnya Bao Mu,” sambung GaoLing,”juga banyak nama julukan lain karena keadaan wajahnya. Kayu Hangus, Mulut Goreng, semacam itu. Orang-orang tidak bermaksud jahat, julukan itu hanya untuk bercanda… Yah, sekarang kalau kupikir-pikir, nama-nama itu kejam, sangat kejam. Itu tak pantas.”(hal. 363)


Memaafkan Pelaku Bullying dalam The Bonesetter’s Daughter

Keluarga adalah hal paling penting bagi Bao Mu. Sebagai putri kesayangan Tabib Tulang. Ia merasakan cinta yang meluap-luap dari keluarganya. Rasa yang nggak hilang, meski semua terbakar di malam itu.

Kasih sayang pun berubah rasa iba. Kasur lembut dan baju indah berganti jadi lantai dingin dan selembar baju lusuh. Bahkan tarikan senyumnya yang dulu menawan, berubah jadi seringai dari sisa bibirnya yang menakutkan.

Bao Mu selalu ingat masa kecilnya. Ingat semuanya. Menggenggam kenangan untuk terus hidup. Kadang ia tersenyum sambil menyisir rambut LuLing, putrinya yang memanggilnya Bibi Tersayang.

 Dalam keluarga kami, para wanita pembuat tinta. Kami tinggal di rumah. Kami semua bekerja: aku, GaoLing, para bibi dan sepupu wanitaku, semuanya. Bahkan para bayi dan nenek buyut punya tugas memunguti batu dari beras kering yang kami masak untuk sarapan.. (hal 172)


Diskusi

Bullying, bagaimana pun nggak baik. Meski dilakukan tanpa alasan untuk menyakiti hati. Nggak ada seorang pun di dunia ini yang bahagia jadi korban bullying. 

Kata-kata, sikap atau perilaku yang nggak menyenangkan meski hanya bercanda sebaiknya dihindari. Sebab, luka yang timbul akibat bullying nggak akan hilang. Bahkan seorang korban bully saat dewasa bisa menjadi bully juga. Efek domino yang mengerikan.

So, cara terbaik bagi korban bully atau seorang bully adalah kasih sayang keluarga. Tentu saja, kolaborasi dengan ahli bisa mempermudah kesembuhan. Terapi yang bisa dilakukan lewat konseling atau rehabilitasi.  

Harapannya, setelah melalui masa sulit, baik bully dan korban bullying dapat menjalani kehidupan dengan baik. Menerima dan memberi maaf. Sehingga masing-masing bisa hidup bahagia.

Bullying-dalam-novel-the-bonesetter's-daughter

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP Bahasa Inggris Kelas XI KD 3.4 Invitation Letter

Resensi Novel Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa

Resensi Buku: Inteligensi Embun Pagi