Asyik Gaul Bareng Guru Gen Z

asyik-gaul-bareng-guru-gen-z


Aku pernah merasa bingung saat menyelesaikan tugas bikin video untuk program CGP tahun lalu. Saking bingungnya, aku baru selesai menyelesaikan tugas tersebut setelah utak-utik berhari-hari. Kelar sih, meskipun hasilnya gak sebagus buatan guru Gen Z yang banyak berseliweran di internet.

Emang, guru Gen Z itu beda dalam hal kreativitas. Karya mereka terlihat lebih fresh dan simple. Padahal materi yang disampaikan sama. 

Nggak nyangka aja kalau aku akhirnya bisa gaul guru Gen Z yang gosipnya lebih melek teknologi dibandingkan gen milenial. Meskipun nggak pernah punya stigma tertentu dengan gen Z, aku nggak terlalu dekat  dengan mereka. Ya, tapi nggak jauh juga sih. Aku sering duduk bareng mereka. wkwk..

Meskipun kadang jujur aja, dalam beberapa obrolan guru Gen Z ini aku nggak selalu 'nyambung'.  Mungkin karena rata-rata mereka berusia 23 atau 25 tahun. Beda lebih 20 tahun denganku. Pasti ada jeda pengalaman hidup ya?

Ya, mereka mungkin gak merasakan main di lapangan sambil menangkap capung atau sekedar main hujan tanpa alas kaki. Ah, ingat masa-masa indah itu deh..

Tapi, mungkin karena sikapku yang biasa aja dan gak menunjukkan gaya senioritas yang berlebihan, aku merasa bahwa mereka bisa ngobrol santai denganku. 

Awal kerja bareng guru Gen Z 

Kisah guru-guru baru ini kerja di SMK BLK Bandar Lampung ini terjadi sekitar tahun 2023 akhir. Saat itu sekitar 17 guru di sekolahku diterima PPPK. 

Singkat cerita, guru-guru baru ini sebenarnya adalah lulusan UIN Raden Intan Lampung yang baru saja PPL di sekolah.

Yup, mereka termasuk beruntung, karena sekolah butuh guru dan mereka pun direkrut sekitar bulan Maret 2024. Ya, belum lama juga ya? Sekitar 2 tahun.

Sebenarnya, guru yang direkrut gak semuanya gen Z. Beberapa guru produktif yang cukup senior pun direkrut, karena sekolah kekurangan guru produktif. 

Meskipun menurutku, kualitas guru produktif yang baru ini gak sebaik guru produktif yang diterima PPPK. 

Sebut aja, pak Solihin, guru otomotif yang juga kaprodi otomotif dan ketua panitia akreditasi sekolah untuk SMK PK (Pusat Keunggulan). Beliau guru yang disukai anak-anak. Orangnya tegas dan dekat dengan siswa dan guru-guru otomotif.

Sekarang, beliau digantikan oleh Pak Nando, gen Z yang mengajar di sekolah sekitar 4 tahunan. Orangnya lebih santai dibandingkan pendahulunya. Ah, setiap orang pasti ada masanya dan setiap masa pasti ada orangnya ya?

Oya, FYI, guru Gen Z yang direkrut dari UIN Raden Intan Lampung hanya jurusan matematika, BK, agama Islam, IPA, Sejarah, DKV dan Bahasa Indonesia. 

Setahuku sih, UIN Raden Intan belum punya jurusan otomotif dan listrik. Kedua jurusan cukup dibutuhkan di SMK. Sayangnya, lulusan jurusan ini lebih suka bekerja di dunia industri yang lebih menjanjikan secara finansial.

So, guru Gen Z di sekolahku yang lulusan bukan umum hanya pak Saiful. Oya, pak Ipul ini juga lulusan dari SMK BLK Bandar Lampung sekitar tahun 2017/2018. 

Karakteristik guru Gen Z di sekolahku

Aku gak akan menggeneralisasi guru-guru Gen Z di sekolah. Aku hanya akan menyampaikan hasil pengamatanku yang mungkin saja subjektif. Jadi, karakteristik guru Gen Z ini gak mewakili guru Gen Z secara umum ya..

1. Suka jajan. Pernah lihat jajanan sepanjang jalan ke UIN Raden Intan? Rata-rata yang beli dan penjualnya ya anak-anak Gen Z. 

Meskipun terkadang agak macet pas jam sibuk makan siang dan lalu lalang anak-anak UIN lewat, rasanya ya seru aja. Tapi, kadang ya berasa capek aja kalau pas buru-buru dan cuaca panas.

Enaknya kenal guru Gen Z ini, mereka bisa tahu tempat makan yang enak dan murah yang lagi viral. Selain itu mereka juga mau dimintai tolong untuk beli makanan tersebut. Kan sekalian jalan dan ngantrinya. Ya kan? wkwk..

2. Berani Bicara. Berbeda dengan guru Gen Milenial di sekolahku yang cenderung kurang berani menyampaikan pendapat, Gen Z cenderung lebih berani bicara.

Mungkin ini disebabkan karena Gen Milenial di sekolahku, termasuk aku, adalah guru yang merintis sekolah yang berdiri di tahun 2004 ini. Sehingga kami lebih hati-hati dalam menyampaikan pendapat. Saking hati-hati, pas rapat kami ya diam aja. Biar aman wkwk. Duh, jadi ingat betapa tegang saat rapat dengan yayasan dulu.

Untungnya, sekarang orang yayasan udah agak lunak. Mungkin, itu karena orang yayasan pun sudah menua. Anaknya yang mulai mengambil alih adalah Gen Z. Yah, sedikit gak setegang dulu pas rapat. wkwk.. 

3. Teknologi Savvy. Untuk kemampuan teknologi, aku nggak meragukan guru Gen Z. Asyiknya lagi, ternyata guru di sekolahku juga menguasai  penggunaan medsos, seperti tiktok. Jadi, pas lagi gabut atau pusing nyari jalan keluar masalah siswa, kami bisa sejenak bikin konten di sekolah. Lumayanlah, bisa sekalian promosi sekolah. wkwk. 

Trik Asyik Gaul Bareng Guru Gen Z di SMK BLK Bandar Lampung 

1. Nggak Sok Tua. Aku pikir secara alami, setiap orang itu suka didengarkan dan gak suka digurui. Ya, aku gak pernah ngerasa sok tua. Kadang, aku ngerasa lupa kalau aku lebih tua dari mereka. wkwk.. 

2. Nggak Merasa Lebih Pengalaman. Dan, karena gak merasa tua, aku pun nggak merasa lebih berpengalaman. Aku pikir, tanpa cerita pun, mereka sudah tahu bahwa aku punya pengalaman mengajar.

3. Saling menghargai. Aku percaya bahwa usia bukan hanya angka, tapi juga sebuah nilai hidup yang harus aku hargai. Nilai yang mungkin punya arti saat memberi kontribusi yang bermanfaat bagi semua orang. Saling menghargai dalam setiap aspek kehidupan.

Seperti Bu Retni, guru senior yang minta izin pada Bu Dian, guru BK yang bertugas saat gak bisa masuk kelas. Meskipun Bu Retni sudah izin dengan kepsek, beliau tetap menghargai Bu Dian. 

"Bu Dian kan tugas, saya harus menghargai lah.." jawab Bu Retni saat ditanya, "Ngapain izin sama guru muda?"

Aku sih setuju dengan sikap Bu Retni, meskipun mungkin aja Bu Dian, kalau kulihat dari orangnya yang super cuek, ya gak bakal merasa tersinggung kalau Bu Retni nggak izin padanya. 

"Aku mah santai orangnya," kata si Dian ini saat kutanya. Doi ini pun kalau kutanya sering cengengesan gitu. Aku curiga kalau doi sedang jatuh cinta. wkwk..

Ah, apa pun itu, aku percaya di mana pun kita berada, kalau hidup saling menghargai itu pasti menyenangkan. Ya kan?

4. Saling Berbagi. Ah, jadi ingat dulu pernah kenal seorang guru senior. Umurnya sekitar 60an. Beliau suka sekali bawa jajanan, hingga mejanya selalu penuh dengan guru-guru yang ikutan nimbrung makan. Seru sekali. 

Dan, sikap ini pun ternyata dimiliki guru-guru Gen Z di sekolahku. Mereka sering bagi-bagi makanan setelah pulang kampung. Ya, mereka ada yang dari Mesuji, Kota Agung, Kotabumi, dan Menggala.

Nggak cuma berbagi makanan, guru Gen Z juga sering berbagi ilmu. Sehingga, kepsek sering menjadikan mereka sebagai narasumber pelatihan media pembelajaran digital. Terbaru sih terkait media ajar menggunakan AI. 

Dalam training yang dihadiri semua dewan guru dan staf ini, kami belajar tentang media pembelajaran digital menggunakan AI yang mudah dan efisien. Guru nggak perlu seribet dulu dalam menyusun berkas administrasi yang bisa menghabiskan waktu dan tenaga. 

Selama pelaksanaan kegiatan training ini, sikap saling menghargai terlihat jelas. Guru senior belajar dan bertanya pada guru Gen Z. Sementara guru Gen Z memberikan contoh dan memandu dengan sabar. Yah, maklumlah, loading agak melambat.  Sudah overload dengan urusan cabe dan garam. wkwkwk..

Dan, sambil tersenyum aku pun ikut belajar sambil berdoa. Semoga dinamika proses pembelajaran ini menghasilkan ekosistem pendidikan yang positif bagi anak-anak di sekolah. Aamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Siswa SMK : Oase yang Hampir Hilang

Belajar Arti Kejujuran dari Seorang Bakul Sayur

3 Tips to Speak English