Puisi: Sepotong Roti

 Sepotong Roti

 

Menapaki jalan ini
Memaki debu yang menempel di kaki
Keringat menetes di dahi
Mengering bersama gemetar tangan penuh daki

Berhari lapar memutus rasa hormat
Tergadai demi sepotong roti 
Anggur murah dan tembakau pemuas sesaat
Bergulung tubuh membaur laksana sampah

Ne pain ne voyent qu'aux fenestres
Sepotong roti melihat dunia
Tanpanya Aku mati
Lalu, menjual harapan dan mimpi

Tergeletak lusuh di tanah
Dapur bertikus jadi istana
Teringat masa lapar durjana
Budak segala budak

Makian pun jatuh di telinga tuli
Sepotong roti jadi tujuan
Sungguh, kelaparan itu setan
Miskin itu budak bagi terpelajar!

#RCO9
#OneDayOnePost
#ReadingChallengeODOP9

Puisi-sepotong-roti-down-and-out-paris-london




Well, puisi di atas adalah kesan yang kudapat dari buku Down and out in Paris and London karya George orwell. A bit gloomy. But, life is not like walking on the park. Not for everyone.

Buku setebal 300 halaman ini berkisah tentang seorang Inggris dan Boris, seorang Rusia veteran perang. Persahabatan mereka makin erat berkat nasib yang menjerat mereka. Lapar.

Sekedar sepotong roti pun sudah jadi barang mewah. Mereka berdua sering mendapati perut yang kosong berhari-hari. Hingga, tak ada yang bisa dikerjakan kecuali terbaring sambil menatap laba-laba yang menempel di dinding.

Perubahan Nasib 


Lalu, mereka dapat pekerjaan di hotel. Pekerjaan yang bagai budak dan melelahkan. Nggak ada ruang dan waktu untuk berpikir. 

Namun, perut tak lagi lapar. Itu yang terpenting. 

Keinginan untuk hidup lebih baik pun menggoda mereka keluar dari Hotel X. Kerja di restoran pada Patron yang memperkerjakan mereka seperti budaknya budak. Bahkan, hotel X pun bagai liburan.

Tidur di atas tumpukan sampah. Tumpukan piring kotor, panci, dan bahan makanan bertabur di tanah. Tikus pun lalu-lalang seenaknya.

Di hotel, mereka dapat libur satu hari dan bekerja sekitar 14 jam sehari. Di restoran, tak ada libur. Dan, mereka kerja lebih dari 17 jam sehari dalam 7 hari. Non-stop!

Nah, kebayang kan ceritanya? Buku ini pun menggambarkan perbedaan status cook, waiter, tukang cuci piring, patron, dan manager. Perbedaan status yang menjadikan cara dan penyajian makanan pada mereka pun berbeda.

Judul buku : Down and out in Paris and London
Penulis.       : George orwell
Tebal buku : 300
Bahasa.        : Inggris
Terbitan.      : Tahun 1933


Komentar

  1. selesai mbak 300 halaman itu? saya lama banget g baca karya dari luar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Otw, mbak. Bukunya online. Jadi ya kadang lupa check halaman ��

      Hapus
  2. Hm, tema begini memang bikin overthinking :"
    George Orwell ini, saya punya bukunya tapi enggak selesai-selesai~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..Tema sosial emang bikin kita mikir berat. Jadi lebih sensitif dg sekitar..

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Kayaknya berat ya ๐Ÿ™ˆ, selama ini membaca buku yang ringan2 aja.. habis baca puisi ini pengen menantang diri baca buku agak berat ๐Ÿ˜ƒ

    BalasHapus
  5. Kelaparan memang bisa jadi awal bencana dan juga kejahatan, yah demi sepotong roti manusia bisa kehilangan kemanusiaannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Fitri. Kelaparan bisa bikin manusia jadi gak manusiawi..

      Hapus
  6. Perbedaan status, pekerjaan juga mmebuat sudut pandang yang berbeda ya mbak dalam menyikapi suatu masalah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Maria. Posisi /keadaan perut kosong juga mempengaruhi cara pandang atas masalah..

      Hapus
  7. Bacaan kak Yoha mantap sekali, selaras dengan puisi hasil dari simpulan bukunya. terasa sekali Vibe dari puisinya. Good job

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Kak Yonal. Buku ini emang keren^^

      Hapus
  8. Keren puisi nya Mbak. Salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Kak Fathur. Salam kenal juga..

      Hapus
  9. Yang susah saat kelaparan tapi masih bisa memanusiakan manusia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak Setyo. saat lapar, moral manusia bisa terjun bebas ke dasar terbawah. Mental nya juga jd terbelenggu dlm rasa putus asa. Ah, cerita Orwell ini kan pengalaman pribadi nya. Mungkin, karena itu berasa hidup..

      Hapus
  10. Yang susah saat kelaparan tapi masih bisa memanusiakan manusia

    BalasHapus
  11. Aku jadi penasaran sama bukunya nih mbak, udah lama nggak baca buku luar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku ini bisa jd referensi, mbak. Apalagi kalau suka jalan2 ke tempat yg gak terduga.

      Hapus
  12. Dari dulu pingin baca bukunya George Orwell, tapi kok belum kesampaian. Berat ya kayaknya��

    Btw, puisinya bagus, Kak��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enteng kok mbak. Ini kubaca online. Lewat hp hihi..

      Hapus
  13. Anisa Sustianing16 Maret 2021 09.24

    Selalu keren, Mba Yoha, sukanya buku dari luar, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya.. sebenarnya alasannya supaya bisa dapat eksposure bahasa ini sih..biar gak kalah sama milenials yg pinter2 ๐Ÿค—

      Hapus
  14. Mbak Yoha bagus banget sih puisinya apalagi bukunya berat pula. Buku ini udah masuk wish list dari lama, tapi belum sempat terealisasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca aja mbak Renov hihi..Aku juga baca lewat hp kok..jadi enteng๐Ÿค—

      Hapus
  15. Suka bingung kadang bikin puisi aku mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keluarin isi hati aja, mbak Maria ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP Bahasa Inggris Kelas XI KD 3.4 Invitation Letter

Resensi Buku: Inteligensi Embun Pagi

Resensi Novel Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa