Resensi Buku: Inteligensi Embun Pagi

Resensi Buku Karya Dee Lestari "Inteligensi Embun Pagi"
#Resensi Buku Supernova Episode: Inteligensi Embun Pagi
Oleh : Yoharisna

Judul Buku   : Inteligensi Embun Pagi
Penulis          : Dee Lestari
ISBN            : 978-602-291-131-9
Penerbit        : Bentang
Harga            : -
Tebal buku    : 710 hln, 20 cm
Editor            : Adham T Fusama
Cetakan         : Februari 2016

Membaca sebuah karya sastra bagiku seperti menjelajahi tanah baru. Dunia baru. Mempelajari hal - hal baru yang belum kuketahui. Mendatangi tempat - tempat eksotis dan misterius yang mungkin tak akan pernah kudatangi, kecuali aku punya uang dan kesempatan. Membaca pun dapat membawaku jauh menemui khayalan tertinggi. Tak perlu bayar. Gratis. Aku hanya perlu duduk, dan membaca buku di mana pun. Kali ini buku yang kubaca adalah trilogi Supernova,  Inteligensi Embun Pagi. Kisah perjalanan sekumpulan anak manusia yang mencari rahasia di balik Supernova.

Buku Inteligensi Embun Pagi yang ditulis oleh Dee ada sebagai proses kreatif melalui perjalanan panjang mengkhayal, mengobservasi, membaca, dan meriset. Proses panjang tanpa henti yang dilakukan penulis untuk menghasilkan karya - karyanya. Termasuk Inteligensi Embun Pagi ini. Buku yang mulai penulis proses di tahun 2015. Buku Inteligensi Embun Pagi ini pun diterbitkan tahun 2016 oleh Penerbit Bentang Pustaka, Sleman, Yokyakarta. Buku yang dicetak setelah proses kreatif yang pajang selama setahun. Proses yang menjadikan buku ini padat dan sarat makna. Bernas.

Buku Inteligensi Embun Pagi ini diceritakan dengan menggunakan sudut orang ketiga. Sudut pandang yang menjadikan pembaca dapat menyelami karakter dalam cerita dengan caranya sendiri. Sudut pandang khas sang pencari. Ini juga yang menjadikanku selalu penasaran untuk menyelesaikan membaca buku ini.

Sinopsis Inteligensi Embun Pagi

Buku yang menceritakan perjalanan tanpa lelah Gio, Zarah, Bodhi, Elektra, Alfa, dan Kell mencari nilai dan identitas mereka yang akhirnya semakin jelas. Hidup yang mereka lihat dari cara yang berbeda. Hidup yang tak akan pernah sama lagi.

Cerita dimulai dengan Gio yang memulai pencariannya. Menemui seorang wanita, Chaska di Lembah Suci Urubamba. Situs Inca yang menjadi wisata spiritual yang menjadi lahan produktif bagi para maestro curandero. Gio sebenarnya tak tertarik. Ia datang hanya untuk menguji pesan Amaru. Orang yang memandunya untuk memulai pencarian ini. Tapi, pencarian inilah yang menjadi titik balik dalam hidup Gio. Menemukan dirinya, dan belahan dirinya yang lain.

Dalam perjalanan menguji pesan Amaru inilah Gio bertemu dengan Zarah, Bodhi, Elektra, dan Alfa. Para peretas yang akan menggenapinya dalam membuka kunci misteri Supernova. Pencarian yang akan mengawali sebuah 'cinta' dan mengakhiri 'cinta' yang lain.
Konflik emosi yang dialami oleh Alfa dalam gambaran diskusinya dengan Kell.
"Kalian adalah makhluk yang bisa mengomputasi ribuan tahun bahkan miliaran kemungkinan ke depan! Justru karena kamu bukan penulis lirik lagu pop, aku jadi bingung apa lagi definisi 'keajaiban' bagimu?" (hal 282)
Pergulatan emosi yang mengalir dalam diri para pencari yang juga peretas ini menciptakan konflik bukan hanya di dunia sini, tapi dunia lain. Konflik yang berbenturan dengan kaum infiltran dan Sarvara. Para penyebrang gerbang portal dimensi lain.

Kelebihan buku

Buku yang diawali dengan puisi yang menggambarkan dalamnya sebuah 'cinta' yang jadi awal dan akhir sebuah kehidupan ini dipecah jadi 99 keping yang saling menyatukan. Seperti paduan cinta Gio dan Zarah yang saling menggenapi (hal 276). Cerita yang ditulis oleh penulis dengan gaya philosofi yang dalam. Apik.
Melihat dari gaya bahasa yang khas dari penulisnya membuat buku ini kaya diksi. Cocok dengan pembaca yang doyan lalapan diksi. Buku ini pun mampu membawa pembaca menyebrangi dimensi lain. Typical science fiction yang kaya dengan diksi ilmiah yang menantang.

Kelemahan buku

Buku yang bergenre science fiction ini pasti bikin pusing bagi yang tak paham dengan istilah - istilah asing yang bertebaran di tiap lembaran ceritanya. Hingga buku ini akan sulit dipahami oleh pembaca anak - anak. Kalau pun ingin membacanya, anak - anak perlu didampingi karena diksinya yang perlu penjelasan lebih lanjut. Terlebih lagi, terselip pesan  kebebasan cara berpikir yang dapat menerima segala bentuk perbedaan, seperti hubungan Dimas dan Ruben. So, perlu pemikiran kritis dan jernih dalam membaca buku yang penulisnya mendalami philosofi orang Batak dan suku Inca ini.

Menurutku, sebagai penikmat buku, buku ini dapat memperkaya khazanah dimensi pikir kita. Menjadikan kita berani melihat hal yang baru. Membuka perspektif terhadap hidup ini. Selamat membaca!

Bandarlampung, 29 September 2019

Komentar

  1. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘
    Salam kenal kk, saya dari kairo...

    BalasHapus
  2. Ya Allah, akhirnya ktemu blognya stelah berbulan pencarian, (ngos -ngosan) ๐Ÿ˜…
    Hai Kak, Yoharisna๐Ÿ‘‹

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, kak Nio. Aku pun sudah berlarian di Nganjuk. Ngarep suatu ketika nanti nyata hehe. Thanks sudah mampir, Kak.

      Hapus
  3. Jujur mba, aku termasuk yang ga begitu paham novelnya dee lestari ini. Kalimatmya terlalu tinggi untukku, hehehe. Mbak hebat, baca 710 halaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini sudah kubaca pertengahan 2016 kak. Bukunya juga pemberian bu Dee sendiri karena bapak ku nge-fans sama beliau. Aku jg dikirim semua dari philosofi kopi, bintang jatuh, akar, madre, dll. Gratis. Hehe. Hanya yang terbaru Aroma Karsa ini yg blom dikirim. Anyway, thanks sudah mampir..

      Hapus
    2. Wow, diberi oleh Bu Dee langsung ya. Hebat..semangat membacanya yah mbak

      Hapus
  4. Balasan
    1. Biasanya yang online ada kak. Kalau mau yang hardcopy di toko buku ada hehe

      Hapus
  5. Yahhhh, seperti halnya anak2, akupun begitu. Tingkat pemahaman kalimat masih kurang. Spertinya buku ini blm cocok bertemu denganku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pun masih anak - anak, Mbak. sebenernya lebih suka manga atau komik romance kitch yang nyantuy. Anyway, thanks sudah mampir Mba Eka

      Hapus
  6. Keren, semangat kak ๐Ÿ’ช

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, Kak. Semangat juga buat kakak

      Hapus
  7. Mntep mbak nya... Itu buku tebel beud hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya. Tapi aku emang suka. Coba baca deh. Pasti keterusan sampai beres. Aku pun sudah baca yang ke dua kalinya hehe. anyway. thanks sudah mampir

      Hapus
  8. Dapat referensi lagi untuk Belajar nulis fiksi. Buku jika menarik, setebal apapun akan tetap asyik dinikmati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Mbak. Buku itu ya dibaca aja. Dinikmati. Kalau dijadikan beban, ya, gak bakal dibaca hehe

      Hapus
  9. Baca Resensinya jadi tertarik,.namun kalu banyak diksi bagi pemula juga bingung,,, tapi selam ada niat semua bisa diatasi
    Selamat kak ,tulisannya bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, kak. Baca aja kak. Nanti juga suka. Gak perlu pusing dengan tebel atau diksinya. nanti juga ngerti.

      Hapus
  10. karya Dee memang selalu penuh dengan penghayatan dan dilakukan dg riset sebelum penulisan

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, Kak. Dee emang piawai bikin cerita yang asyik. Jadi banyak yang udah difilmkan, seperti philosofi kopi, perahu kertas dll

      Hapus
  11. Sejauh ini baru baca karyanya dee yang perahu kertas dan philosofi kopi. semoga suatu saat bisa keturutan baca yang ini๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini bagus juga kak. coba baca yang bintang jatuh, madre dan yang lain juga. Lumayan bagus^^ Anyway, thanks sudah mampir

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP Bahasa Inggris Kelas XI KD 3.4 Invitation Letter

Ulasan Cerpen “A Thousand Sakura Petals” karya Waobi