Kenakalan Anak: Apakah Salah Orang Tua?

kenakalan-anak-apakah-salah-orang-tua


Pernah nonton drakor Juvenile Justice? Film yang dibintangi oleh Kim Hye-soo, Kim Moo-yeol, Lee Sung-min, dan Lee Jung-eun ini menceritakan tentang seorang hakim muda yang bertugas di pengadilan tindak kenakalan anak.

Menonton aksi Eun-seok dalam film ini mengingatkan aku dengan aksi kenakalan anak belakangan ini yang makin meresahkan masyarakat. Seorang teman di sekolah mengatakan padaku begini, "Sekarang, orang tua cenderung lebih permissive terhadap apa pun aktivitas anak."

Bahkan, saat seorang anak bermasalah, salah satu wali murid hanya bilang, "Maklum, Bu. Namanya juga anak-anak." Hingga aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, kenakalan anak apakah salah orang tua? Ah, pertanyaan ini sungguh menggangguku. Karena sebagai seorang guru, bukankah aku pun berperan sebagai orang tua?

Baiklah, sebelum kita diskusi tentang solusi dan pencegahan kenakalan anak ini, mari kita cek pengertiannya dulu.

Pengertian Kenakalan Anak


Kenakalan anak merupakan aktivitas pelanggaran nilai dan norma sosial yang mengganggu ketertiban umum yang dilakukan anak di bawah usia 18 tahun. Kita juga bisa mengatakan bahwa kenakalan anak merupakan aktivitas anti sosial anak-anak yang usianya kurang dari 18 tahun yang meresahkan masyarakat.
Memang, sebagian orang berpendapat bahwa kenakalan anak adalah proses anak dalam mengenal jati diri dan mencari pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Namun, batas kenakalan anak yang masih dianggap wajar adalah saat kenakalan anak itu tidak berdampak buruk secara permanen baik bagi pelaku atau pun korban, seperti: berbohong pada teman dan orang tua, bolos saat pelajaran di kelas, dan lain-lain.


Contoh kenakalan anak


Seperti yang kita tahu, kenakalan anak dapat dianggap biasa saat tidak mengganggu ketertiban umum atau melanggar norma social dan agama.

Contoh kenakalan anak atau pelanggaran anak adalah perbuatan pelanggaran kecil, serius, hingga berat, seperti: mencuri barang kecil di toko, berkelahi di jalan raya, hingga pembunuhan dan penganiayaan berat.

Aku jadi teringat kasus penganiayaan yang dilakukan oleh anak seorang pejabat pajak terhadap seorang korbannya David. Kasus ini melibatkan seorang tersangka yang masih di bawah umur. Isu ini pun sorotan masyarakat, karena pelaku merupakan anak seorang ASN yang seharusnya memberikan teladan yang baik.

Belum lagi beberapa kasus kenakalan anak yang viral di medsos, hingga menimbulkan keresahan di masyarakat.
Nah, contoh kenakalan anak yang sedang marak belakangan ini adalah

  • Membolos sekolah
  • Pencurian barang dan uang
  • Perang sarung, kegiatan anak ini dilakukan setelah tarawih dan saur
  • Kebut-kebutan di jalan raya
  • Minum-minuman keras di tempat umum
  • Judi
  • Pemerkosaan
  • Kekerasan pada orang lain yang lebih lemah dalam bentuk pemukulan, pemalakan, dan lain-lain.
  • Menonton video porno
  • Pembunuhan

Jenis Kenakalan Anak


Menurutku, kenakalan anak adalah masalah serius yang harus ditangani oleh semua pihak dengan hati-hati. Apalagi, aktivitas ini merupakan kegiatan yang tidak bermanfaat dan mengakibatkan keburukan bukan hanya bagi pelaku dan korban, tapi juga buat masyarakat.
Aktivitas kenakalan anak terkadang dianggap sebagai proses pencarian jati diri dan pengakuan dari lingkungan sekitarnya ini. Sebut saja perang sarung yang dilakukan usai taraweh. Bagi anak-anak, aktivitas ini adalah tren dan wujud eksistensinya di lingkungan tempatnya bermain. Kalau nggak ikut, dianggap nggak gaul.
Meskipun aktivitas kenakalan anak itu perlu dalam prosesnya untuk mengenal dan mengetahui sekitarnya, anak wajib mengetahui batasan dari kenakalan yang dapat membahayakan diri dan nyawa orang lain. Sehingga, kenakalan anak itu dapat dibagi dalam tiga jenis, yaitu: ringan, serius, dan berat.
Dianggap kenakalan ringan, jika korban tidak mengalami kerugian fisik dan mental secara berarti. Contoh kenakalan anak ringan adalah pencurian ringan, bolos sekolah, berbohong pada guru dan orang tua, iseng yang nggak berbahaya (contoh: menyembunyikan pena teman) dan lain-lain.
Untuk kenakalan anak serius adalah kenakalan yang mengakibatkan kerusakan fisik dan mental yang cukup berat, tapi masih bisa disembuhkan. Contoh kenakalan serius adalah membully teman secara verbal, memukul teman dengan tangan, minum alcohol, dan lain-lain.
Sedangkan kenakalan anak berat adalah kejahatan anak-anak yang mengakibatkan kerusakan permanen secara fisik dan mental, serta kerugian dalam bentuk kehilangan nyawa atau anggota tubuh secara permanen.

Contoh kenakalan anak jenis ini adalah pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan dan lain-lain. Untuk kasus ini, anak tersebut dapat dikenai sanksi hukum sesuai dengan pasal 71 Undang-undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak disebut sebagai Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya dapat dikenai pidana atau tindakan.


Penyebab Kenakalan Anak: Apakah Salah Orang Tua?



Di era digital yang serba cepat ini, kita bisa melihat kecerdasan buatan dalam bentuk gawai yang menimbulkan distorsi dalam semua aspek kehidupan manusia. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan bagi orang tua dan anak-anak, karena gawai pun dianggap sebagai salah satu penyebab kenakalan anak.
Penggunaan gawai sebagai alat bantu manusia ini yang nggak terbatas dan terkendali menjadikan anak sebagai pengguna informasi lebih mudah berekspresi. Dampak buruknya adalah informasi yang tanpa filter ini dapat menghasilkan distorsi atau pemikiran menyimpang anak terhadap diri dan orang lain di sekitarnya.
Distorsi yang merupakan kesalahan atau penyimpangan cara berpikir seseorang dalam melihat dirinya dan orang lain ini bisa dilihat dari perkataan dan perbuatan seseorang pada orang lain. Seperti seorang peserta didikku di sekolah yang asyik menonton tawuran di layar gawainya dan menganggap video tersebut bagus. Beberapa anak lain pun setuju sambil menunjukkan video anak yang main senjata tajam di gawainya.
Jujur aja, aku sempat bengong sesaat mendengar pernyataan mereka bahwa tawuran itu adalah bukti solidaritas atau berantem itu adalah tanda kita berempati pada teman dan bukti kita anak yang berani. Duh, kok bisa mereka berpikir seperti ini? Siapa sih orang tua mereka? Gawai?
Lalu, aku pun jadi bertanya-tanya,"Apakah kenakalan anak ini salah orang tua?" Lha, ya gimana? Anak-anak lebih akrab dengan gawai dibandingkan dengan orang tuanya di rumah. Alasannya sih, orang tua kan sibuk mencari nafkah. Jadi, kalau ada pertanyaan, orang tua pun menjawab,"tanya aja sama google." So, dengan kata lain, anak-anak ini diasuh oleh gawai.
Artinya, komunikasi anak dan orang tua dibatasi oleh keterbatasan pengetahuan orang tua tentang skill parenting yang memadai dalam mendidik anak. Faktor ekonomi, background pendidikan orang tua, lingkungan bermain, dan pola asuh orang tua pun jadi penyebab kenakalan anak sebagai masalah yang kompleks.

Singkatnya sih, informasi dan hiburan yang mudah diakses lewat gawai serta kurangnya pengawasan orang tua pun dapat dianggap sebagai salah satu factor kenapa isu kenakalan anak sulit untuk dikendalikan.
Untungnya, kita bisa mencari solusi dan pencegahan dari masalah ini. Kuncinya sih, semua pihak yang terlibat mau saling bekerja sama untuk kesuksesan tugas ini.

Solusi dan Pencegahan Kenakalan Anak


Sebagai guru yang telah mengajar di sekolah vokasi yang dikenal erat dengan kenakalan anak, kami nggak pernah lelah untuk duduk bersama anak untuk bicara tentang masalah mereka. Paling tidak, dengan komunikasi yang baik bisa jadi solusi awal agar anak yang bermasalah ini nggak mengulangi perbuatannya.
Dari pengalaman kami sebagai guru, kami melakukan beberapa tindakan solusi untuk mengatasi kenakalan anak, seperti:
  • Memberikan nasihat dan teguran
  • Memberikan tugas atau hukuman mendidik pada anak yang bermasalah, seperti: mengaji, menyapu kelas, menulis pernyataan dan cerita tentang alasan perbuatannya, dan upaya anak untuk nggak mengulangi perbuatannya.
  • Pemanggilan anak dan orang tua ke sekolah
  • Skorsing atau pembatasan pembelajaran di sekolah. Untuk orang tua biasanya memberikan pembatasan fasilitas hiburan, baik gawai atau pun fasilitas lain. Tujuannya adalah agar anak dapat berpikir dan memperbaiki perbuatannya.
  • Mengembalikan anak pada orang tua, jika kenakalan anak dilakukan dengan sengaja lebih dari batas yang telah disepakati dalam perjanjian tata tertib sekolah.
Sedangkan aktivitas pencegahan yang dapat dilakukan orang tua dan guru adalah
  • Memberikan pengawasan dalam penggunaan gawai dan fasilitas lain, seperti: uang saku, motor, mobil, dan lain-lain.
  • Melakukan komunikasi yang intens dan terbuka terhadap perkembangan anak di sekolah dan lingkungan bermainnya. Kita bisa menanyakan bagaimana pembelajaran di sekolah, teman-teman, pacar, dan hal lain terkait kehidupan anak.
  • Memberikan contoh terbaik pada anak dalam beribadah dan bersikap dalam kehidupan sehari-hari.
  • Menjelaskan pada anak tentang value dalam hidup ini, contoh: semua orang adalah sama di mata Tuhan, hingga kita harus saling mengasihi dan menghormati sesama.
  • Mendukung kegiatan yang dapat mengembangkan minat dan bakat anak, seperti: music, seni bela diri, aktivitas sosial yang lain
  • Memberikan tanggung jawab pada anak terhadap perbuatan dan pekerjaan yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
  • Mengajak anak ikut dalam kegiatan keluarga dan masyarakat yang dapat menumbuhkan rasa empati dan solidaritas anak pada sesama, seperti: kegiatan gotong royong, bagi-bagi sembako, atau berkunjung ke panti.
  • Menanamkan nilai spiritualisme dalam diri anak dengan mengajak anak melakukan kegiatan keagamaan bersama, seperti: shalat berjamaah, mengaji bersama, atau mengikuti acara pengajian.

Diskusi Kenakalan Anak sebagai Isu Penting dalam Perbaikan Masyarakat


Seorang teman pernah bilang begini, “Aku pernah nakal, tapi aku kini sudah tobat. Bagaimana pun lebih baik jadi mantan anak nakal, daripada mantan anak baik.”

Ah, mendengar ucapannya aku hanya bisa tercenung. Meski aku nggak bisa membenarkan pendapatnya, aku pun nggak bisa bilang bahwa ucapannya salah. Apa pun itu, wacana tentang kenakalan anak ini adalah isu penting yang jadi tanggung jawab kita semua.

Kenapa? Karena di tangan anak-anak muda inilah kesuksesan negeri ini bisa diraih. Kalau anak-anaknya sehat, kuat, dan berakhlak mulia, insya Allah cita-cita yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dapat tercapai. Semoga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Bullying dan Pencegahan Bullying di Lingkungan Sekolah

Resensi Buku: Inteligensi Embun Pagi

Resensi Novel Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa