Perlukah Membayar Utang Budi?
Kemarin seorang teman bertanya begini, "Perlukah Membayar Utang Budi?" Pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi mungkin membutuhkan perenungan untuk menjawabnya. Hingga aku pun terdiam sejenak. Kalau langsung jawab, aku takut salah ngomong. Karena kalau aku jawab, nggak, nanti ada pertanyaan lanjutan. Bukankah utang harus dibayar? Bukankah nggak bayar utang itu dosa? Bukankah orang itu pada dasarnya mengharapkan imbalan atas apa pun yang ia lakukan? Karena, kalau nggak mengharapkan bayaran atas kebaikan, untuk apa ada surga dan neraka? Lalu, jika kujawab, ya, nanti pertanyaan lanjutannya adalah gimana kalau orang tersebut menolak atau marah dan tersinggung karena ia hanya mau kamu terima bantuannya tanpa mengharapkan imbalan apa-apa? Atau gimana kalau orang tersebut sudah meninggal dunia? Ah, manusia itu emang rumit ya? Apalagi kalau yang suka overthinking kayak aku ini. wkwk.. Sering punya prasangka dan dugaan yang bikin mumet sendiri. wkwk. Tapi, okelah,...