Surat Buat Corona: Catatan Menjelang Ramadhan 1441

Dear Corona,

Perkenalkan, namaku agak panjang, jadi panggil saja Y. Nama yang kupilih dengan tanpa berpikir lama. Aku berharap kamu jadi bertanya-tanya tentang diriku. Ingin tahu. Kenapa aku ingin dipanggil Y.

Selanjutnya,  kamu pun jadi ingin mengenalku. Mengingatku. Tak ingin melupakanku. Mempertimbangkan perasaanku dan orang-orang yang ada di sekitarku.

Corona,

Mungkin kamu bingung saat menerima surat ini.  Kita tak pernah saling mengenal. Kamu pun belum pernah bertemu denganku. Jujur. Aku pun tak pernah ingin bertemu denganmu. Jadi kukirim surat ini. 

Aku ingin kau hanya jadi teman daringku saja. Meski mungkin, banyak orang yang penasaran denganmu. Mereka meneliti dirimu, dan mencari cara bagaimana cara membunuhmu. 

Kenapa? Karena kau dianggap bertanggung jawab atas banyak kematian yang terjadi belakangan ini. Kamu dianggap jahat. Tidak punya perasaan.

Ah, aku tahu kamu terkejut. Sebagaimana diriku terkejut denganmu. Bagaimana kamu yang begitu kecil dapat membunuh begitu banyak orang. Sekitar 172.241 korban  meninggal (23/4.2020). Padahal bahkan tubuhmu pun lebih kecil dari tebu yang berterbangan!

Corona sayang,

Aku tahu, kamu ingin menangis. Aku juga. Sebagaimana tangisan hamba pada sang Pemilik. Aku tahu kamu pun menjerit ketakutan. 

Bukankah semua mahluk Allah akan dimintai pertanggunganjawabnya di hadapan Allah. Termasuk kamu dan aku. Aku khawatir kau tak sanggup menahan beban ini.

Jadi, Corona, maukah kau tanyakan pada Pemilikmu tentang keberadaanmu di dunia ini? Sebagaimana seorang hamba yang memohon pada Tuannya tentang penderitaannya yang tak tertahankan? Tapi aku tak berani memintamu. 

Sungguh, lidahku tercekat, tanganku gemetar. Mataku pun kabur. Aku tak sanggup memohon padamu. Padahal aku pun tahu kau hanya hidup dan bernapas karena Pemilikmu. 

Padahal aku tahu, kau pun seperti aku. Hanya hamba. Bukankah hamba itu diperlakukan sekehendak Pemilknya.

Corona, tahukah kamu orang bilang, karena dirimu  Ramadhan ini pun jadi lebih sepi. Para pedagang mengeluh dagangannya sepi. Pegawai pun berkeluh kesah. Mereka tak bisa bekerja di kantor, meski masih dapat gaji utuh. 

Beberapa bahkan menganggur dan harus menunggu bantuan pemerintah hanya untuk makan. Sementara itu, para tahanan penjara merasa bersyukur karena dibebaskan. Berkat dirimu, Ramadhan ini akan jadi ujian yang lebih berat.

Corona, 

Aku tahu, kamu tak pernah berniat membunuh atau melakukan hal lain selain mentaati perintah Pemilikmu. Kamu pun hanya hamba-Nya. Tak ada daya dan upaya selain atas rahmat Allah. 

Sebagaimana mahluk lain, seperti tikus, coro, curut atau mahluk lain yang dianggap sebagai parasit hadir ke dunia bukan tanpa tujuan. Aku pun berpikir baik tentangmu. Tapi sekali lagi, aku tak ingin bertemu denganmu. Seperti aku tak ingin bertemu dengan kalajengking, ular, atau buaya secara langsung. Bagiku, aku cukup senang melihat kalian di layar kaca saja.

Corona, 

Kamu tahu? Malam ini adalah malam pertama bulan suci Ramadhan. Malam yang kutunggu-tunggu selama berbulan-bulan. Malam yang syahdu. Malam yang di dalamnya aku ingin berdoa. Semoga kau akan tenang beristirahat di sisi Pemilikmu.

Aku berdoa, semoga akan segera ditemukan cara agar kau dapat mengerti bahwa aku dan orang-orang yang kau temui itu adalah sama. Mahluk Allah. Jadi, kumohon kembalilah pada-Nya atau bertemanlah dengan kami, atau paling tidak dengan orang-orang yang terbaik di aantara kami. Sungguh, kamu bisa memilih.

Setelah itu, kumohon Corona, pergilah ke tempat yang jauh. Hingga aku tak bertemu denganmu. Hingga aku mengerti kau mengerti permintaanku. 

Ya, aku tahu, aku egois. Tapi ini demi Ramadhan. Demi rasa cintaku pada orang-orang di sekitarku. Supaya aku tak ada alasan untuk tidak bersilahturahmi dengan keluarga dan sahabat-sahabatku. Supaya aku dapat leluasa beribadah pada Pemilikmu. Tidakkah kamu ingin menambah pahalamu dengan berdoa demi seluruh umat.

Akhirnya, Corona, aku yang egois ini pun meminta padamu dengan sangat agar kamu tak usah kembali lagi. Katakan pada Pemilikmu bahwa kau begitu mencintai-Nya hingga kau tak ingin berpisah dengan-Nya. Katakan pada-Nya kau pun ingin merayakan Ramadhan ini bersama yang paling kau cintai.

Selamat menunaikan ibadah puasa 1441 buatmu Corona. Kuharap kau damai di sisi-Nya

Bandarlampung, 23 Maret 2020

Komentar

  1. Aku tersenyum dan dan gagal fokus gegara "namaku agak panjang" mbak yohaaa wkwkwkwk

    Semoga corona membaca suratnya ya mbak.. hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk kebanyakan di rumah aja jadi gini deh. moga corona tobat ya dan segera kembali pada-Nya. Aamiin

      Hapus
  2. Suratnya boleh kucopas ngga buat corona yang ada di sini mba? Biar cepet udahan😁😆 siapa tau dia bisa baca ini kan. Udah bosen banget nih di rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mbak biar corona yang di sana baca juga

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP Bahasa Inggris Kelas XI KD 3.4 Invitation Letter

Resensi Buku: Inteligensi Embun Pagi

Resensi Novel Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa