Perjalanan Hikmah Menuju Cinta Kekasih

Saat kamu membaca tulisanku ini, sayangku, telah kutitipkan rindu yang membara di balik angin. Menghamparkannya di undakan yang terjulur di pegunungan nan dingin di Pengger sana.

Sayangku, tahukah kamu bahwa malam-malamku dipenuhi dengan namamu. Bantal peraduanku pun telah bermandi air mata yang terus menetes bak hujan di musim kemarau. Deras di tanah kering.

Sayangku, malam yang dingin ini pun mengingatkanku akan bisikan rembulan kesepian yang memanggil-manggil namamu, sayangku, kekasihku, di manakah engkau? Mengapa kau yang begitu dekat bagai memandang angin.

Sayangku, kukatakan syair rindu dan perpisahan pada kesedihan di bulir cahaya yang menumpuk di sudut matamu
Sungguh, sayangku, kekasihku, kukatakan derita angin yang mendamba bertemu dirimu
Hingga perjalanan panjang menemui pun seperti persinggahan
Tak memutus rindu. Tak menghalau sepi

Lalu, pertemuan seperti apa yang bisa jadi obat? Kau bertanya padaku di tengah deru jantungku yang berdebur memandang rinduku yang ternyata bukan kamu

Sayangku, aku pun tetap menatap dirimu di tengah riuhnya hening malam. Hatiku tetap duduk bersamamu dalam bisik lirih doaku
Tak ada rasa kecuali cintaku yang bertebaran untukmu
Hari ini. Nanti. Besok. Dalam doaku demi bahagiamu dan aku juga.
Sayangku, semoga bahagia. Selalu

Yogyakarta, 19 Oktober 2019
Buat sahabatku TN

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP Bahasa Inggris Kelas XI KD 3.4 Invitation Letter

Resensi Buku: Inteligensi Embun Pagi

Resensi Novel Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa