Bunga di Musim Kemarau part 2

Cinta yang mati itu pun menggelepar
Menyisakan mimpi yang bagai buih di bentangan samudra


sumber gambar (fixabay.com)

Amy meletakkan tangannya di kulit dingin Yada, kakaknya. Mata Amy nanar menatap ruang mayat yang dingin. Tak ada siapa pun kecuali mayat-mayat yang tergeletak di atas kasur tipis itu. Hara yang berdiri di sampingnya mengangguk. Perlahan ia mengangkat mayat Yada dan meletakkannya di brankar dorong yang telah mereka siapkan.

"Dokumen rumah sakit sudah beres, Kak?" Amy memandang Hara yang sibuk merapikan selimut Yada. Hara  mengangguk. Menepuk saku bajunya. Malam ini Hara membantu sahabatnya bertugas di kamar mayat. Jadi ia bisa bantu Amy mengurus mayat Yada. Meski tak begitu mengenal Yada, ia kasihan melihat mayatnya yang belum juga dikuburkan. Ia juga kasihan melihat Amy dan Ana.

"Kak, gimana?"

"Jangan khawatir, kak Pirman sudah mengijinkan kak Yada dikuburkan di kampung tetangga malam ini. Kuburan sudah siap. Tukang gali dan yang lain sudah menunggu kita. Bahkan Kyai Irfan sudah menunggu kita."

Mendengar penjelasan Hara, Amy merasa dadanya penuh. Matanya pun terasa panas. Ia menarik napas. Menata hati. Sekarang bukan saatnya menangis. Hara mengangguk. Hati-hati mereka mendorong brankar dorong keluar ruang mayat.

"Kyai Irfan juga udah nyiapin kain kafan buat kak Yada di mushola dekat tanah pemakaman. Jadi kita siapkan mayat di situ. Lalu, kak Yada langsung kita kubur." Hara menjelaskan lagi sambil menutup pintu mobil jenazah. Amy hanya mengangguk. Tak sanggup bicara. Hara hanya memandang Amy. Menghembuskan nafasnya pelan. Ia lalu mengemudikan mobil jenazah menuju pekuburan kampung tetangga yang jaraknya 8 km dari rumah sakit, sekitar 20 menit perjalanan.

Sepanjang perjalanan Amy tak bicara. Sesekali ia mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. Hara menyodorkan tisu dari tasnya. Sesaat tangan Hara menyentuh tangan Amy yang dingin.

"Kak Pirman tadi menjemput Ana. Jadi Ana pun sudah menunggu kita di mushola." Amy mengangguk. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

"Makasih, Kak," ucap Amy lirih. Hara mengangguk. Ia mengerjapkan matanya. Berusaha menahan perasaannya melihat kesedihan Amy.

Langit kelam dan dingin. Daun-daun kamboja melambai ditiup angin. Menaburkan bau kembang kamboja di sekelilingnya. Amy melihat adiknya berdiri di depan sebuah mushola kecil bersama beberapa orang. Dua wanita berjilbab hitam dan lima pria bersorban hijau. Di sekeliling mereka berjejer rapi makam-makam yang terlihat terawat baik.

"Kita sudah sampai tujuan." Hara menoleh ke arah Amy. Mengangguk sambil membuka pintu mobil. Mereka turun dari mobil jenazah. Menghampiri rombongan kecil di depan mushola yang menunggu mereka. Amy menghampiri Ana yang menangis. Memeluknya erat. Sesaat Amy merasa ingin menangis. Menjerit. Tapi ditahannya. Lalu, ia melihat Hara yang mencium tangan dua wanita berjilbab hitam dan lima pria bersorban hijau itu. Hara terlihat menghormati orang-orang itu.

"Umi Naqi, umi Heni, kenalin ini Amy dan Ana yang Hara ceritakan." Hara memperkenalkan dua wanita berjilbab hitam yang menunggu mereka. Umi Naqi dan umi Heni yang berwajah lembut itu bergantian memeluk Amy dan Ana. Menepuk punggung mereka dengan sayang.

"Kak Yada sudah tenang," hibur umi Heni. "Sabar, ya." Amy dan Ana mengangguk.
"Ya, Umi. Terima kasih," bisik Amy.
"Kak Pirman itu salah satu penjaga kubur di kampung tetangga ini. Jadi kamu nggak usah khawatir," kata Hara lirih setelah memperkenalkan kak Pirman, Kyai Irfan dan tiga orang penggali kubur yang juga bertugas mengurus mayat. Mereka adalah Kang Abas, kang Ahmad, dan kang Rafi. Sahabat Hara.

Mereka dengan hati-hati mengurus mayat Yada yang mulai agak lembek. Membungkus dan mengafaninya. Lalu, menyalati Yada. Usai shalat jenazah, rombongan kecil itu dengan khidmat membawa keranda mayat Yada ke peristirahatan terakhirnya. Menguburkannya dengan iringan doa. Bunga-bunga kamboja pun berguguran memenuhi tanah pekuburan. Mereka tak menyadari beberapa pasang mata berkilat yang tersembunyi di balik gelapnya temaram malam. Memperhatikan mereka.

Bersambung..
Episode ke 2 tantangan pekan ke 8 : Menulis cerita 5 episode

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP Bahasa Inggris Kelas XI KD 3.4 Invitation Letter

Resensi Buku: Inteligensi Embun Pagi

Resensi Novel Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa