Persahabatan: Hubungan Tanpa Syarat sebagai Obat Penyakit Mental

persahabatan-hubungan-tanpa-syarat-sebagai-obat-penyakit-mental

Pernahkah kamu berpikir tentang arti persahabatan dalam hidupmu? Atau pernahkah berpikir kamu hidup di dunia ini tanpa hadirnya siapa pun yang bisa kamu sebut sebagai sahabat?

Ah, mungkin pertanyaan-pertanyaan ini bikin keningmu berkerut sesaat atau tidak. Nggak masalah. Karena sahabat itu pun bisa hadir dalam bentuk apa pun. Syaratnya hanya satu. Kamu harus membuka perspektifmu tentang definisi sahabat itu sendiri.

Sahabat atau teman bisa saja orang yang bisa kamu ajak bicara setiap saat kamu membutuhkan. Teman itu selalu mendukungmu, menyayangimu, dan memberikan saran konstruktif untuk dirimu yang lebih baik.

Dan, syarat lainnya adalah kamu dan temanmu ini berteman tanpa syarat. Syarat yang mungkin hampir nggak ada, karena hampir semua hal di dunia itu memiliki syarat. Kalau pun kamu punya pendapat yang berbeda, nggak masalah. Itu hakmu juga. Karena, sebagai seorang sahabat pun, kita adalah orang yang berbeda. 

Dan, sebelum kamu bertanya padaku tentang apa itu arti seorang sahabat bagiku, mungkin aku harus bertanya padamu. Seperti apa dirimu memandang dirimu sendiri? Apakah kamu sudah cukup menghargai dirimu? Apakah dirimu orang yang sempurna atau seseorang yang memiliki banyak kekurangan? Lalu, apakah kamu siap menerima kekurangan dan kelebihan sahabatmu seperti kamu menerima dirimu sendiri?

Selanjutnya, jika kamu telah menerima dirimu, seberapa banyak circle persahabatan atau pertemananmu? Apakah kamu memerlukan circle pertemanan yang banyak?

Well, pertanyaan yang mudah sekaligus sulit, ya? Okey, okey,, kamu mungkin bertanya-tanya kenapa aku menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Lalu, apakah semua pertanyaanmu perlu jawaban? Ah, sekali lagi, aku pikir, yang tahu tentang hal itu adalah dirimu sendiri. Mungkin...

Persahabatan Hubungan Tanpa Syarat sebagai Obat Penyakit Mental 

Aku tahu, saat kamu membaca tulisan ini, kamu akan sedikit memahami betapa pentingnya seorang sahabat bagiku. Karena, pada kamu sahabatku, aku nggak perlu menjadi orang lain. Kamu pun akan mengerti saat kata-kata tak terucapkan atau terucapkan tanpa tata bahasa yang jelas. Kamu tahu saat itu lah aku paling membutuhkanmu. Dan, kamu hanya duduk diam di sampingku atau sekedar mendengarkan celotehku yang makin random.

Kamu tahu, hal yang terkadang membuatku tersenyum adalah saat aku terjaga dalam tidurku. Saat malam hening tanpa suara. Aku keluar rumah. Menatap langit yang gelap. Tidak ada siapa pun di sekitarku, tapi aku masih merasakan kehadiranmu. Hatiku pun terasa sedikit hangat. 

Dalam bincang kita, kamu sering mengatakan padaku bahwa memendam emosi itu nggak baik. "Dulu, saat aku baru saja diusir dari rumah mantanku, aku pulang ke rumah dalam keadaan hamil besar. Dan, di rumah, aku sering mengamuk," katamu sambil menerawang. "Aku melempar gelas, piring. Dan, entah kata-kata apa yang aku ucapkan pada bapak mamak.." Matamu berkaca-kaca. "Itu karena aku selalu memendam perasaan. Dan, meledak saat aku pulang ke rumah. Kasihan mamak bapak.."

Dan, kita berdua pun menghela napas sambil menyeka air mata yang menetes di ujung mata. Aku yang sering nggak bawa tisu pun, hanya bisa melap air mataku dengan ujung jilbabku.

"Ungkapin aja yang kamu rasakan," katanya lagi. "Nggak perlu memendam perasaan, karena orang nggak akan mengerti isi hati kita. Jadi,kalau marah, kesal, sedih, yaa lepasin aja. Biar hati plong."

Aku hanya mengangguk sambil memandanginya. Bukan, aku nggak merasakan rasa kasihan seperti orang yang nggak mengenal seseorang setelah hampir tujuh tahun bersama. Aku merasakan emosi yang berbeda terhadap beberapa orang yang jadi teman dekatku. Untuk temanku ini, aku merasakan kagum dan bangga atas usaha dan kerja kerasnya selama beberapa tahun ini sebagai seorang ibu tunggal dan tulang punggung di keluarganya.

Oya, sebagai orang yang cukup introvert, aku biasanya hanya dekat dengan satu atau dua orang saja secara intens. Temanku ini, sebut aja dia Mawar, aku sudah dekat kurang lebih dua atau tiga tahun. Ya, aku tahu, waktu yang belum cukup lama, tapi, seperti yang kamu tahu, lamanya waktu mungkin nggak bisa menjamin ketulusan dan cinta seseorang pada kita. Ya kan?

Pernahkah kamu berpikir tentang arti persahabatan dalam hidupmu?

Ah, karena kamu bertanya, aku pun jadi memikirkannya. Apa arti seorang sahabat bagi Yoha? Sangat penting. Bagiku sahabat itu sangat penting, karena tanpa sahabat aku akan merasa kesepian. Aku akan merasa gamang dan gelisah, karena nggak mempunyai seseorang sebagai tempat berbagi. Sahabat yang bisa mendorong, menguatkan, dan bersandar.

Sahabat yang bisa menemani saat aku tertawa dan menangis.atau sekedar duduk bersama dalam diam di heningnya hari setelah lelahnya menjalani hari seharian. Atau sekedar teman bercakap-cakap sambil makan camilan atau minum teh di siang yang terik saat istirahat siang.

Teman yang dapat melengkapi hidup kita yang sesaat ini. Teman yang bisa mengukir kenangan bersama hingga saatnya kita berpisah nanti.

Pernahkah berpikir kamu hidup di dunia ini tanpa hadirnya siapa pun yang bisa kamu sebut sebagai sahabat?

Pernah. Dan, aku meneteskan air mata saat memikirkan hal itu. Lalu, adikku pun berkata padaku, "Jangan memikirkan sesuatu yang kamu sendiri nggak bisa membayangkannya. Serahkan aja semuanya pada Allah. Ikhlas.."

Duh, aku jadi ingat anak-anak Palestina yang harus terpisah dari ayah ibu dan orang-orang yang mereka cintai karena perang. Ya Allah, hanya Engkaulah penolong kami semua.. Sungguh, hanya Engkau lah sahabat bagi kami orang-orang yang tanpa daya..

Lalu, bisakah kita bersahabat tanpa syarat?

Mungkin. Tapi persahabatan tanpa syarat ini seperti barang mewah di tengah kehidupan yang hampir semuanya dinilai dengan mata uang. Karena bukankah persahabatan mungkin terjadi karena seseorang bisa bertemu. Pertemuan yang terjadi pun akibat dari sebuah kepentingan, seperti persahabatan yang terjadi karena bekerja di suatu tempat, belajar di suatu institusi, atau anggota dari sebuah komunitas. 

Bukankah, kadang persahabatan mungkin terputus saat seseorang keluar atau tidak memiliki kepentingan dengan komunitas / institusi tersebut? Mungkin, hanya beberapa orang yang mampu bertahan dalam persahabatan meski terpisah oleh ruang institusi, tapi itu pun karena mereka masih memiliki kepentingan yang menghubungkan mereka, seperti: hubungan bisnis, utang, arisan, dan lain-lain.

Selanjutnya, sebelum kita ngobrolin cara membina hubungan tanpa syarat, aku akan menjawab pertanyaan di atas dulu ya.. 

Seperti apa dirimu memandang dirimu sendiri? 
Aku sih memandang diriku sebagai seorang yang realistis. Aku sadar bahwa diriku nggak memiliki banyak teman, karena memelihara intensitas persahabatan itu memerlukan tenaga, waktu, dan uang. Ketiga hal itu adalah barang mewah yang sangat terbatas. Dan, aku sangat menyadari hal tersebut.

Untungnya, orang-orang yang mengenalku pun memiliki cerita yang sama. Aku memiliki beberapa teman yang hanya bertemu setahun dua kali atau sekali, tapi kami saling memahami. Apalagi, seperti yang kita sadari bahwa bertambahnya usia akan membatasi ruang pertemanan atau persahabatan di luar circle keluarga. Ah, klise banget ya? wkwkwk..

Apakah kamu sudah cukup menghargai dirimu? 
Ya, aku sudah cukup berusaha menghargai diriku sendiri dengan menghindari circle pertemanan yang toxic. Seperti dulu, aku punya seorang teman yang sering mengkritik dengan bahasa yang tajam dan terkesan merendahkanku. Aku bertahan selama beberapa tahun, hingga aku memutuskan untuk menjauh. 

Benarlah kata orang, kita nggak bisa mengubah orang lain. Kita hanya bisa mengubah diri kita dalam merespon sikap orang lain.

Apakah dirimu orang yang sempurna atau seseorang yang memiliki banyak kekurangan? 
Aku bukan orang sempurna, tapi aku selalu berusaha untuk memperbaiki diriku agar menjadi diri yang lebih baik. 

Lalu, apakah kamu siap menerima kekurangan dan kelebihan sahabatmu seperti kamu menerima dirimu sendiri? Ya, siap nggak siap, aku harus menghadapi dan berusaha menerima sahabatku apa adanya sebagaimana aku menerima diriku sendiri. Bukankah kata orang bijak, teman adalah cerminan diri kita? Jadi, kita harus bijak memilih teman. Ya kan?

Bagaimana cara membina persahabatan tanpa syarat?
  • menemukan teman atau sahabat yang memiliki satu tujuan sosial yang sifatnya bukan profit semata, seperti: komunitas baca, komunitas menulis, komunitas hobi, komunitas mengaji, dan lain-lain
  • menjaga dengan baik teman yang dimiliki sekarang sambil berdoa pada Allah bahwa persahabatan ini membawa kebaikan
  • berpikir positif terhadap orang lain dan teman-teman di sekitar, karena teman banyak itu sedikit dan satu musuh itu banyak
  • melakukan kebaikan pada siapa pun dengan cara yang kita bisa, sesederhana bicara yang baik atau diam saat kita belum bisa bicara baik.
Oya, sebelum aku menutup tulisan randomku ini, aku hanya ingin menuliskan bahwa seberapa banyak atau sedikit circle persahabatanmu itu nggak jadi masalah. Hal terpenting, aku pikir sih, seberapa besar kamu bisa kasih pengaruh buat sekitarmu dalam kebaikan. Simple-nya sih adalah selalu berbuat baik di mana pun kita berada. 

Aku yakin, persahabatan yang tanpa syarat itu bisa jadi obat penyakit mental bagi diri kita dan orang terdekat kita. Insya Allah..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Siswa SMK : Oase yang Hampir Hilang

Belajar Arti Kejujuran dari Seorang Bakul Sayur

3 Tips to Speak English