Jurnaling sebagai Sarana Healing Sederhana

jurnaling-sebagai-sarana-healing-sederhana


Emang benar kalau menulis itu bisa dilakukan semua orang? Jawabannya sih tergantung kamu sendiri. Kalau menurutku sih, menulis itu sesederhana mencoretkan satu hurup ke kertas atau media apa pun yang kita punya. Kamu bisa mengekspresikan diri atau sekedar mengungkapkan emosi lewat goresan yang mungkin bagi orang lain nggak ada artinya.

Yups, menurutku sesederhana itu. Nggak ribet atau rumit. Seperti satu goresan yang bisa mengandung arti bagi yang memahaminya. Ingat kan kalau goresan aksaran Lampung, misalnya, hanya dipahami oleh orang yang belajar dan mempelajarinya. Bagi yang tidak mengerti, goresan aksara Lampung itu, hanya garis atau titik yang tanpa arti. Ya kan?

Begitu pun Jurnaling sebagai sarana healing yang sederhana, karena dengan menulis jurnal, mungkin kamu bisa menumpahkan seluruh isi hatimu tanpa takut ada yang menghakimi atau menilaimu. Kamu bebas menulis apa saja sesukamu. Dan, jika kamu ingin merahasiakannya pun, itu adalah privilege-mu. Kamu boleh melakukannya. No worries.

Apa sih Jurnaling itu?

Jurnaling adalah curahan hati yang bisa saja berbentuk tulisan yang dikerjakan secara rutin baik itu harian, mingguan, atau bulanan. Jurnaling sifatnya pribadi, hingga nggak perlu pendapat orang lain (bebas kritik). Karena sifatnya pribadi, jurnaling dapat jadi sarana melepaskan stress, beban, atau menuangkan isi hati, perasaan atau pikiran yang tidak bisa disampaikan pada orang lain.

Junraling juga dapat dijadikan sarana untuk pencarian jati diri. Lewat jurnaling, kita dapat membandingkan diri kita hari ini dan diri kita di masa lalu. Lalu, memprediksi diri sendiri, seperti apa diri kita di masa depan.

Kenapa jurnaling?

Aku memilih jurnaling, karena jurnaling itu mudah, murah, dan tanpa batas. Aku bisa menulis apa aja yang aku pikir. Mungkin ya, seperti curhat random yang tanpa arti. 

Kalau mau pilih tulisan versi lain, aku kan perlu berpikir dulu. Padahal, aku kadang rasanya sudah capek berpikir. Maunya sih yang menulis aja. Nggak mau pusing dengan yang lain. Jadi, yaa.. jurnaling mungkin yang paling cocok.

Ah, jadi ingat tulisan jurnal aku di buku itu. Malu bacanya deh wkwk.. Dan, sepertinya, buku jurnalku itu sudah dibakar atau dijadikan bungkus cabe oleh emak-emak tukang sayur. Mudah-mudahan nggak ada yang rajin membaca tulisan randomku itu wkwkwk. 

Tapi, aku pun berpikir lagi, saat kertas tulisan jurnal itu pun masih berguna untuk sekedar pembungkus cabe, artinya kertas itu masih berguna. Dan,  jika skenario alternatifnya terjadi, yaitu tulisan jurnal itu terbaca orang lain pun, ya paling-paling orang itu hanya tertawa atau mengerutkan dahi sejenak sambil memakan camilan kesukaannya. Atau kertas yang berisi tulisan curahan hatiku itu hanya teronggok di tempat sampah bersama sampah makanan sisa. Duh, tragis ya? wkwk. Begitulah kehidupan..

Aku pikir, karena jurnaling ini, aku menyadari bahwa nggak ada yang bisa dihindari di dunia ini. Hidup, mati, sehat, sakit, sedih, bahagia, jatuh, bangkit, dan semua hal yang terjadi adalah bagian dari kehidupan. Nggak ada yang tidak sementara. So, nggak perlu terlalu overthinking. Jurnalin aja. Mungkin nanti kamu akan merasa plong. Kalau masih nyesek, ya biarin aja. Rasakan aja sambil menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Percayalah, apa pun itu, semua akan berlalu.

Jurnaling sebagai Sarana Healing Sederhana


Bertahun lalu, aku pernah menulis di sebuah buku. Anggap saja buku itu buku jurnalku. Tapi, jangan tanya di mana buku itu berada ya? Aku pikir, buku itu pun sudah menghilang. Entah ke mana. Tapi, aku masih ingat apa yang aku tulis di situ.

Tapi, seperti yang aku tulis sebelumnya, jurnalku itu rahasia. bahkan ibuku tidak tahu, meskipun pada beliau lah hampir semuanya kuceritakan.

Dan, kamu tahu, sejak adikku sakit di tahun 2009 hingga kini, aku sudah mulai hanya bercerita pada jurnalku. Apalagi saat adikku yang cowok meninggal di tahun 2017 dan nenek di tahun yang sama, aku mulai berhenti bercerita, kecuali aku sudah menyortir ceritaku. 

Yups, aku nggak mau menambah beban ibuku dengan cerita konyol kehidupan ini. Termasuk tentang atasan yang sering bersikap tidak adil secara verbal. Yah, aku tahu, seperti kata pemeran dracin, hanya orang kaya atau bertampang rupawan yang mendapat privilege perlakuan istimewa. So, aku harus belajar menghargai diriku sendiri dengan tidak peduli dengan ucapan atau sikap yang nggak penting. Bukankah kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri?

Dan, begitulah, aku pun menulis apa pun yang aku pikir dan rasakan sebagai sarana healing sederhana. Yah, kalau menunggu orang lain mendengarkan keluh kesah atau isi hati kita, aku yakin, aku perlu waktu berhari-hari, karena temanku pun punya kehidupan dan masalahnya sendiri. Nanti, bukannya aku yang curhat, tapi malah terbalik. Aku yang sering jadi pendengar wkwk..

Yaa, belakangan ini, aku mulai belajar untuk jadi pendengar yang baik. Dan, kamu tahu, aku pernah mendengarkan orang curhat tentang isi hatinya yang galau karena cowok selama hampir dua jam. Ceritanya muter-muter aja, sampai kepalaku pusing. Duh, jadi pendengar yang baik itu emang nggak mudah ya?

Jadi ingat kata temanku yang guru BK, bahwa saat ia menangani anak-anak bermasalah yang konsultasi, sebenarnya mereka hanya pura-pura mendengarkan. "Yaa, kalau terlalu mendengarkan masalah orang sebanyak itu setiap hari, ntar adanya kita yang sakit.." Aku hanya mengerutkan dahiku. "Ya, pasang wajah penuh simpati aja.. kuncinya sih, mereka hanya perlu merasa ditemani dan didengarkan.." 

Aku pun tersenyum mendengar jawaban simple temanku itu. Ya, kita hanya perlu merasa didengarkan dan ditemani. Mungkin, jurnaling pun bisa jadi salah satu teman sesaat yang dapat jadi sarana tersebut. Tentunya, mengembalikan semua masalah pada Allah adalah solusi akhir yang bisa menenangkan diri. Seperti pepatah yang mengatakan, jika masalah itu tidak ada lagi  jalan keluarnya, biarkan saja ditelan oleh waktu. Pasrah aja. Hanya Allah penolong terbaik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Siswa SMK : Oase yang Hampir Hilang

Belajar Arti Kejujuran dari Seorang Bakul Sayur

3 Tips to Speak English