Pojok Rumah dengan Vibe Hijau yang Bikin Adem

pojok-rumah-dengan-vibe-hijau-yang-bikin-adem


Bicara tentang pojok rumah, aku sih suka banget berdiri di depan rumahku yang lumayan hijau. Apalagi kalau musim hujan seperti di bulan Januari ini. 

Aku bisa bengong menatap derai tipis hujan yang menetes dari daun ke tanah atau sekedar memperhatikan setitik air yang menempel di bunga kuning yang entah apa namanya.

Ya, aku emang suka pojok rumah dengan vibe hijau yang bikin adem hatiku. Terlagi beberapa tahun ini yang begitu berat bagiku dan keluargaku. Sehingga rasanya, kadang aku pikir isi di dada ini ingin meledak. 

Tapi, melihat hijaunya dedaunan yang terkadang baru muncul dari batang yang hendak mati, bikin aku sedikit terhibur. Rasanya. seperti ada harapan, asalkan masih ada kehidupan ini.

Oya, kamu tahu, di sepetak rumah yang aku tinggali bersama keluargaku ini, ada sedikit ruang bagi tanaman buat tumbuh bebas. Bahkan, pernah sebatang pohon mangga kweni yang buahnya lebat tumbuh menjulang dan rindang, hingga suasana di sekitar rumahku terasa sedikit gelap.  "Hati-hati ada ular lho, Yo.. Halaman rumahmu terlalu rimbun tanamannya," lanjut teman yang lain.

Sayang, buah mangga manis itu tak bisa lagi kami nikmati gratis, karena buahnya sering menimpa genteng tetangga. Terpaksa, dua tahun lalu, kami memutuskan untuk menebang pohon itu. Padahal, pohon mangga itu cukup legendaris. Manisnya bikin kangen.

Mungkin, itu sebabnya, aku suka sekali datang ke tempat rekreasi atau kafe yang punya vibe hijau. Minimal suasana tempat itu bikin aku bisa bernapas lega dan tenang. Jauh, dari bisingnya suara klakson motor atau mobil yang akrab di telingaku saat aku berangkat atau pulang sekolah. 

Nah, aku mau cerita sedikit tentang deretan 5 pojok di rumahku yang memberikan vibe adem di hatiku like no other

1. Pojok Kamar

Seperti biasa, pojok kamar adalah tempat paling akrab bagiku. Bisa dibilang, aku menghabiskan banyak waktuku di pojok kamarku. Di sinilah, mungkin, aku menceritakan mimpi, harapan, dan doa-doaku pada Allah sepanjang hidupku. Bahkan, mungkin, di sinilah aku pernah merasakan rasa aman yang nggak aku dapatkan di saat terberat dalam hidupku. 

Ah, jadi ingat saat adikku sakit dan aku harus bersembunyi di sini untuk sekedar mengusap air mataku dalam diam, karena aku nggak mau ibu dan bapak sedih melihatku menangis.

Aku pun sering duduk diam di pojok kamar untuk hanya sekedar mengingat uang yang harus aku kumpulkan untuk biaya adikku berobat. Dan, kamu tahu, sambil berpikir, aku menarik napas dan menatap jauh melalu jendela kamarku. 

Oya, di  pojok kamarku itu, ada sebuah jendela kayu dengan jeruji besi yang menghadap ke halaman samping rumahku yang cukup hijau. Sering kali, di tengah hijaunya pohon itu, aku bisa melihat dan mendengar suara burung liar yang berkicau. Ramai sekali.

Di situlah,  di halaman rumahku, hidup berbagai macam tanaman hijau. Sebagian tumbuh karena ditaman bapak atau emak, sebagian lagi tumbuh subur karena dibiarkan saja. 

Yup, kami sering terlalu sibuk untuk mengurus tanaman-tanaman itu. Jadi, kami sementara ini hanya bisa menikmati hasilnya, tanpa banyak merawatnya, seperti tanaman pisang, jambu klutuk, sirsak, daun pandan, bambu jepang, delima, bunga telang, buah naga, pagagan yang berserakan di tanah, dan masih banyak lagi.

Ah, kamu terbayang kan hijaunya? Teman-teman yang datang ke rumah, sering bilang kalau suasana rumahku seperti di kampungnya. Bahkan, ada yang bilang, kalau halaman rumahku yang nggak terurus itu seperti hutan wkwk. Aku hanya tertawa mendengarnya. Dan, sambil tertawa, aku memberikan temanku itu daun kelor segar yang baru kupetik. Lumayan, bisa untuk sayur sehat. Ya kan?

Oya, dari pojok kamarku juga, aku bisa melihat daun asparagus yang masih hijau itu tumbuh. Aku ingat, tanaman ini ditanam oleh almarhum adikku bertahun lalu. Tanaman ini tumbuh subur dan sehat. Terkadang, saat iseng, aku ambil foto makanan atau buku dengan latar belakang tanaman ini. Ah, melihat hasil foto tanaman asparagus ini aja bisa bikin aku tersenyum seharian.

Dari sudut kamar ini juga, aku bisa melihat langit biru di sela-sela rimbunnya daun dan kabel wifi. Rasanya adem melihat langit yang biru, meskipun kadang terganggu melihat kabel-kabel yang semrawut itu, aku pikir asalkan masih bisa melihat birunya langit, semua mungkin akan baik-baik saja.

2. Pojok Dapur

Selain di kamar, aku pun senang bengong di dapur. Terkadang, aku hanya memandangi bawang atau panci, sementara pikiranku entah ke mana. Sering juga, aku bengong pas lagi menggoreng tempe atau memasak air. Untunglah, drama gosong menggoreng tempe tidak terlalu sering terjadi. 

Bisa dibilang, meskipun nggak terlalu suka memasak, aku cukup suka berada di dapur. Sekedar masak atau melakukan aktivitas rutin yang seharusnya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan perut. Dan, saat aku pikir lagi, siapa yang lebih sering menghabiskan waktu di dapur ternyata bukan aku wkwk. 

3. Pojok Ruang Keluarga

Saat kamu masuk ke rumah yang aku tempati sekarang, kamu akan temukan sofa kayu berwarna kuning. Sofa inilah yang menandakan kamu sudah ada di ruang keluarga yang merangkap ruang tamu. 

Biasanya sih, kami makan bersama atau sekedar ngobrol di ruangan ini. Kadang aku pun menghabiskan waktuku bersama Hasan di ruangan ini. Menggambar, mewarnai, atau sekedar main mobil-mobilan bersama Hasan. Seru dan ramai sekali.

Oya, karena emak baru beli tivi, sekarang aku pun suka nimbrung nonton kartun Hasan. Alhamdulillah, berkat nonton bareng, aku jadi tahu beberapa tokoh kartun seperti, polisi Labrador, tung tung sahur, dan lain-lain. 

Yah, aku bisa sedikit terhibur melihat Hasan yang sering tertawa-tawa melihat kartun kesukaannya itu.

pojok-rumah-dengan-vibe-hijau-yang-bikin-adem


4. Pojok Halaman Belakang Rumah yang Hijau 

Nggak jauh berbeda dengan suasana di halaman depan rumah, pojok halaman belakang rumahku pun cukup hijau. Bedanya adalah aku bisa melihat kandang ayam dan kolam ikan. 

Bapak memelihara ayam kampung, kalkun, dan ayam Kate serta ikan mujair. Dan, gara-gara kolam ikan inilah, Hasan kemarin sempat sibuk minta dibelikan pancingan. 

Alhasil, beberapa hari ini bocil ini sempat duduk di depan kolam ikan dengan pancingan barunya. Lagaknya seperti pemancing sungguhan aja wkwk. Sayang, nggak ada satu pun ikan yang mau makan umpannya wkwkwk.

Dan, karena Hasan, aku pun suka duduk di halaman belakang. Meskipun nggak bisa lama-lama karena nyamuknya banyak, aku senang melihat kupu-kupu kecil yang berseliweran di antara dedaunan atau rombongan semut yang berbaris di tanah. Serasa melihat acara dokumenter di tivi. wkwk.

5. Pojok Depan Rumah

Di daerah rumahku di Kedaton, sebagian rumah masih memiliki halaman yang ditanami pepohonan hijau. Termasuk rumahku. 

Jadi, saat tukang paket bertanya alamat rumah dan aku menjawab rumah yang banyak pohon. Tukang paket pasti bingung. "Rumah yang mana, mbak. Rumahnya banyak pohon semua."

Untungnya, sekarang tukang paket itu sudah hafal alamat rumahku. Jadi, mereka nggak kesasar lagi. 

Dan, kamu tahu, suasana di pojok depan rumahku pun asyik buat bengong. Selain posisi rumah yang tusuk sate hingga aku bisa menghabiskan waktu sekedar mencabut rumput buat refreshing. 

Kalau pas malas ngapa-ngapain, aku bisa duduk di depan rumah sore-sore sambil melihat anak-anak main bola di jalanan yang sepi. Vibe-nya serasa lagi ada di taman, karena aku bisa melihat anak-anak asyik berlarian sambil berteriak-teriak. Ramai deh wkwkwk.

Oya, sebagai info, nggak jauh dari rumahku ada cafe yang temanya taman. Vibe-nya hijau adem. Namanya D'JAYA HOUSE - CAFE & RESTO. Tempatnya enak untuk ngafe bareng temen-temen atau keluarga. Cafe ini juga menyediakan fasilitas wedding, ulang tahun atau tunangan. 

Serunya lagi, aku bisa makan di sini dan nggak khawatir kemalaman, karena jaraknya cukup dekat dari rumahku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Siswa SMK : Oase yang Hampir Hilang

Belajar Arti Kejujuran dari Seorang Bakul Sayur

3 Tips to Speak English