Resensi Novel Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa

Gambar novel Kembara Rindu yang selesai kubaca dalam 6 jam hari ini Minggu, 15 September 2019.


#odopBatch7

Resensi Novel Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa
14 September 2019
#Resensi Buku Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa


Kisah Novel dengan Latar Belakang daerah Lampung yang Menginspirasi 
Oleh : Yoharisna

Novel yang diramu apik oleh Habiburahman el Syirazi yang telah menerima banyak penghargaan  ini menceritakan tentang kisah seorang santri dengan mengambil latar Lampung, Cirebon dan Kuningan. Kental dengan nuansa religius kesantrian yang menawarkan cinta akan pondok pesantren, kyai dan mengaji Al quran. Cinta yang muaranya ditanamkan oleh keluarga. Cinta yang memerlukan sebuah proses perjalanan berliku sebelum kembali pada yang Pemilik-Nya. Allah.


"Kita seperti orang berpergian di dunia ini, orang yang mengembara. Dunia ini bukan tujuan kita Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya."(hal 61)

Tokoh sentral, Ridho menghabiskan empat tahun hidupnya di Pesantren Darul Falah, Desa Sidawangi sesuai pesan Kakeknya. Kakek Jirun. Kakek yang mengasuhnya sejak ayah dan ibunya meninggal. Ridho yang lahir dan dibesarkan di keluarga yang berusaha menanamkan sisi religius yang lama ditinggalkan oleh masyarakat kebanyakan selalu berusaha patuh pada pesan Kakek Jirun. Mengabdi sebagai khadam di pondok. Kakeknya ingin salah satu dari keturunannya ada yang menjadi santri dan menimba ilmu Al quran. Menjaga pusaka keluarga dan mengajarkan masyarakat tentang Al quran. Masyarakat yang kini lebih condong pada kehidupan materi. 

Kecintaan pada Allah dan Al quran begitu kental dalam cerita yang sarat dengan pergulatan emosi dalam pencarian ridho Allah. Kecintaan Ridho pada Kakek jirun dan keluarganya yang akhirnya menghadirkan kesadaran yang mempertemukan Ridho dengan orang - orang yang mendukungnya meraih harapannya.

Novel yang mengambil latar belakang di tanah Liwa, Way Sekampung dan Bandar Lampung ini menceritakan tentang konflik keluarga yang dialami Ridho. Konflik kesulitan finansial yang sempat menggoyahkan mimpinya. Menunaikan amanah kakek dan gurunya, Kyai Nawir. Memakmurkan masjid dan mengamalkan ilmunya. Mengajarkan ilmu tentang Al quran. Konflik lain yang juga melanda keluarganya datang saat Ridho membela hak Syifa dan Lukman, adik sepupunya. Meminta haknya sebagai anak dari almarhum Haji Syahril Abror dan almarhumah Nurleila. Konflik yang belum sempat selesai sampai sekarang. Kebencian keluarga istri tua Haji Syahril Abror masih belum menghilang meski waktu telah lama berlalu.

Dalam kegundahannya, Kyai Shobron putra Kyai Nawir mengunjungi Ridho dan memberikan bantuan pinjaman lunak. Ridho juga menemui Kyai Harun sesuai pesan Kyai Nawir sebelum Ridho kembali ke Lampung. Kyai Harun yang mengingatkannya akan tugasnya sebagai seorang santri. Pusaka warisan Kakek Jirun. Memakmurkan masjid. Kyai Harun juga meminta Ridho untuk membangun pesantren di dekat masjid pusaka Kakek Jirun.

Berkah ketaatan Ridho pada pesan guru - gurunya membawa kesuksesan dalam hidup Ridho. Ia berhasil menyelesaikan S-1 nya dan dapat mengembangkan usahanya. Ia juga dapat membangun pesantren sesuai pesan Kyai Harun. Keadaan kakeknya, Nenek Zumroh dan Nenek Halimah pun makin membaik. Ridho pun dapat menyaksikan keberhasilan Syifa menghapal 25 juz dari 30 juz Al quran di Pesantren Kyai Harun, Pesantren Kanzul Barokat. Pondok tempat Syifa belajar Al quran selama tiga tahun di Bukit Kembang Kantil Gisting Tanggamus.

Membaca cerita ini seperti melihat sebuah perjalanan seorang Ikal dalam Laskar Pelangi karya Andre Hirata dalam mengejar mimpinya. Ikal dan Ridho adalah anak - anak daerah yang mampu membawa kebaikan bagi tanah kelahirannya dengan keahliannya masing - masing. Cerita Laskar Pelangi dan Kembara Rindu sama - sama menggambarkan tentang keindahan budaya, tanah dan kekentalan nuansa daerahnya. Keduanya memiliki keunikan yang istimewa, Laskar Pelangi lebih lekat dengan budaya buruh tambang dan Kembara Rindu yang kental dengan budaya santrinya.

Jalinan cerita dalam novel Kembara Rindu yang menawan ini juga pantas dijadikan rujukan bagi pembaca yang ingin mengenal tentang Lampung. Tanah di mana Ridho dilahirkan. Tanah Liwa yang digambarkan di novel ini dapat menghipnotis pembaca tentang rasa cinta yang  menggelora pada keluarga, dan guru. Cinta yang hadir karena Allah.

Semoga Allah selalu membimbing kita semua untuk selalu ada di jalan-Nya. Shalawat.
**************************************
Judul Buku      Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa
Penulis             : Habiburahman El Syirazi
ISBN                
Penerbit           : Republika
Harga               : Rp. 60.000,00
Tebal Buku      : 266 halaman
Editor               : Triana Rahmawati
Cetakan           : September 2019


Komentar

  1. Aku juga udah baca dong. Agak beda dari novel2 sebelumnya yang pasti daerahnya Jawa, kalau nggak ya luar negeri.

    Eh ini di Lampung, padahal emang di Lampung atau pulau Sumatera juga banyak ya ponpes ternama dan Mahsyur.

    Malah beberapa ulama yang menduduki posisi puncak di Jawa kan asalanya dari Sumatera ya. Misal > Buya HAMKA.

    Balik ke Novel. Penasaran sama kelanjutan kisah Ridho dan saudaranya itu... Kan ada yang ke - 2 nya ya. Tapi masih belum rilis.

    Kira-kira nanti Ridho jadinya sama siapan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya sih, kalau menurut yg kubaca hubungan Jawa n Lampung itu dekat. Darah putih kan masih ada hubungan darah dg sultan Banten kala itu.

      Anyway, kalo penasaran dg Ridho mungkin kudu mantengin buku lanjutannya 🤗

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP Bahasa Inggris Kelas XI KD 3.4 Invitation Letter

Ulasan Cerpen “A Thousand Sakura Petals” karya Waobi

Resensi Buku: Inteligensi Embun Pagi