Kecenderungan Hiburan yang Menjadi Tuntutan Hidup

Aku masih ingat saat aku kecil dulu, aku mudah sekali bahagia. Nonton televisi hitam putih senang. Nonton layar tancap juga senang. Bahkan nonton bareng tempat tetangga karena televisi di rumah rusak pun tetap merasa senang. Senang itu simple. Bahagia itu sederhana. Murah. Gratis.

sumber gambar: google. TV Jadul Home

Lain dulu, lain sekarang. Sekarang kita terbiasa dijejali hiburan tiada henti dari youtube, netflix, fb, ig dan banyak situs medsos lain yang mungkin kamu lebih tahu. Semua media tersebut menawarkan hiburan tak terbatas yang murah dan beragam. Hiburan yang akhirnya memenuhi ruang pikir. Menina-bobokan daya kritis terhadap kecenderungan perubahan yang idealnya tak sehat. Bukankah yang berlebihan itu tak baik? Tapi, pertanyaan kemudian datang. Adakah batasan hal tersebut? Siapa yang memberi batas? Dan, adakah yang terbebas dari batasan tersebut? Atau, apakah itu berlaku pada semua orang? Atau, itu sama dengan hukum yang berlaku pada yang lemah dan meluntur pada yang kuat? Atau berhenti pada sebuah  wacana yang mandek di tenggorokan. Berhenti di ujung lidah.

Sebut saja pengguna facebook di Indonesia yang mencapai peringkat 4 di dunia, belum lagi tontonan versi live yang menyedot banyak penonton. Hiburan yang kemudian jadi agenda rutin yang wajib. Tuntutan hidup yang wajib dilakukan. Jadi mata  pencarian atau gaya hidup. Yang intinya tetap saja berputar di kisaran uang. Hal yang enggan diakui, tapi diketahui. Sebagian menyatakan hal ini adalah bonus dari kesenangan yang menyenangkan orang lain juga. Tidak salah sih, tapi efeknya memang jadi berbeda bagi orang lain. Maksudku, seperti tak ada batasan bagi penikmat suatu hiburan. Problemnya, orang sering terlena atas suatu hiburan dan melupakan kewajiban. Itu yang dikhawatirkan. Terutama bagi anak - anak, yang menjadikan orang tua sebagai role modelnya.

Hiburan yang seharusnya hanya dijadikan selingan saat letih bekerja, tidak seharusnya jadi membebani. Seperti perasaan wajib menonton konser Girl Generation saat grup band wanita asal Korea ini datang ke Jakarta, sama dengan seperti wajibnya menjalani shalat lima waktu. Berasa sedih dan kecewa berlebihan saat tidak datang ke konser tersebut karena tidak sanggup membeli tiketnya. Atau membeli semua atribut dan mengikuti semua perjalanan tim bola kesayangan hingga melalaikan tugas sebagai siswa atau peran lain di masyarakat. Hiburan yang menjadi tuntutan hidup. Tuntutan hidup yang batasannya menjadi kabur karena rasa cinta atau kagum yang berlebihan.

Adakah yang bisa membatasi? Tidak ada kecuali diri sendiri. Karena pada dasarnya manusia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya. Membatasi dirinya sendiri dari hal yang berlebihan yang berdampak tak baik bagi dirinya. Dan, bukankah manusia itu punya akal yang jadi polisi bagi dirinya sendiri? Tugas kita hanya mebangunkan polisi dalam diri kita  dan mematuhi aturannya, maka hidup kita akan sederhana. Bahagia.

Adakah yang terbebas dari hal ini? Tidak ada kecuali orang yang berusaha mensucikan dirinya. Orang - orang yang berusaha membersihkan dirinya dari dosa - dosa. Menghindari perbuatan haram dan syubhat. Bahkan, memberikan contoh dengan cara terbaik dengan kehidupan mereka. Kehidupan ala keluarga nabi dan imam maksum, para guru dan ulama. Orang - orang yang selalu dekat dengan Al quran. Orang - orang yang  takut pada Allah.

Apakah ini hanya berhenti pada wacana? Mungkin. Kecuali jika kamu dan aku bergerak bersama melakukan apa yang kita bisa dengan cara terbaik yang kita bisa. Terlepas dari apa yang kita dapatkan, berharaplah bukan sikap sum'ah yang kita hampiri. Sifat sombong dan bangga diri dan pamer yang akhirnya melunturkan seluruh amal kebaikan kita. Nauzubillah. Marilah berdoa, lisan dan tulisan kita dapat jadi penggerak kebaikan. Media pengingat yang tidak menidurkan kita dari sikap kritis terhadap kecenderungan tak baik  di sekitar kita.

Bandar Lampung, 22 September 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP Bahasa Inggris Kelas XI KD 3.4 Invitation Letter

Resensi Novel Kembara Rindu: Dwilogi Pembangun Jiwa

Resensi Buku: Inteligensi Embun Pagi