Apakah Orang yang Berumur 40 Tahun Bisa Bahagia?
Kata orang, semakin kamu bertambah usia, maka kamu akan kehilangan rasa humor dibandingkan saat usiamu lebih muda. Sehingga, aku pikir, aku nggak heran melihat orang-orang yang berumur memiliki guratan hidup lebih banyak.
Seperti ponakanku yang usianya baru 5 tahun, ia mudah sekali tertawa. Berbeda denganku yang perlu alasan untuk tertawa. Lha, tertawa tanpa alasan kan bisa jadi tanda bahwa level stress tinggi. Bukan tanda bahagia. Ya kan?
Apalagi di rumahku, adikku yang mengidap F20 sedang relapse, sejak anaknya yang baru dilahirkan meninggal dunia Desember lalu. Hingga, kondisi di rumahku itu seperti berjalan di atas es tipis. Super hati-hati.
Ah, bagi kamu yang gak tahu F20, itu adalah sebutan dari penyakit gangguan mental, Schizophrenia. Penyakit yang bikin penderitanya dihantui waham halusinasi. Kondisi ini membuat pasien sulit membedakan hal nyata dan bukan.
Tapi, aku nggak akan cerita tentang kisah adikku ini. Aku hanya ingin cerita sedikit tentang pengaruhnya bagiku yang kini sudah berusia 40 tahun lebih.
Usia yang membuatku banyak berpikir. Hingga, muncul pertanyaan-pertanyaan ini.
Apakah aku bisa bahagia saat usiaku sudah mencapai angka ini? Kenapa aku bisa bahagia? Atau apakah bahagia itu emang ada? Padahal hidup ini rasanya kok penuh dengan penderitaan. Atau apakah aku pantas atau boleh merasakan bahagia?
Okey, aku akan ngobrol denganmu tentang pertanyaan-pertanyaan ini.
Apakah aku bisa bahagia saat usiaku sudah mencapai angka ini?
Pertanyaan ini, kupikir jawabannya ada pada diriku sendiri. Karena bukankah kata bahagia yang terdiri dari tujuh hurup ini pun, mungkin, bisa aku rasakan setelah merasakan rasa sedih, kecewa, atau lawan kata dari bahagia, yaitu derita.
Seperti warna putih itu ada pun, mungkin karena adanya warna-warna lain. Atau bukankah kita mengerti arti kaya saat kita merasakan miskin. Ya kan?
Hingga, rasa bahagia ini mungkin bukan titik atau akhir hidup. Karena mungkin, setelah bahagia nanti akan muncul derita. Lalu, saat derita berakhir, mungkin bahagia akan hadir, mungkin tidak.
Kata orang begitulah perputaran hidup. Roda gak pernah berhenti bergerak, hingga mati menjemput. Ya kan?
Bingung? Okey, aku akan mengambil contoh sederhana. Dan, kalau kamu belum mengerti. Percayalah bahwa kamu pun dalam proses memahami atau menjalani putaran hidup itu.
Seorang anak kecil akan bahagia saat ia menerima hadiah mobil mainan. Sedangkan anak kecil lain, sebut aja Dian sudah merasa bahagia saat bisa makan sepotong ayam dan sepiring nasi. Sementara Triana, merasa bahagia saat ayahnya bisa sehat dan bisa berjalan seperti dulu lagi.
Nah, sedikit terbayang kan? Seperti hal lain di dunia ini, aku pikir, soal rasa adalah hal yang subjektif yang erat kaitannya dengan sudut pandang kita melihat kehidupan ini.
Singkatnya adalah seberapa besar kamu bersyukur atas nikmat yang Allah kasih pada kita. Seperti itulah bahagia mungkin bisa dirasakan. Seperti aku yang merasa bahagia saat melihat senyum ibuku setiap hari. Ah, ya benar. Bahagia itu sederhana.
Kenapa aku bisa bahagia?
Kalau kata Bagus Mulyadi, kalau orang hidup itu bukan untuk bahagia. Ucapannya saat ngobrol bareng Ryan di sebuah podcast itu membuatku berpikir. Apalagi ucapan Prof. Bagus yang sedang bikin kamus Jawa Barat ini bahwa ia mungkin hanya tertawa kurang dari 20 menit dalam sehari. Sisanya cemberut.
Duh, kalau definisi bahagia dekat dengan tawa, artinya hidup itu isinya penderitaan.
Lalu, gimana dengan orang yang sering tertawa? Apakah hidup mereka selalu bahagia? Atau tawa itu hanya menutupi rasa nggak bahagia?
Ah, sekali lagi, jawaban pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh orang yang mengalaminya.
Sementara, bagiku, bahagia seperti minum segelas kopi pahit. Meskipun aku gak doyan ngopi, saat aku nyeruput kopi, rasa pahit itu saat dinikmati akan terasa enak.
Apakah bahagia itu emang ada?
Padahal hidup ini rasanya kok penuh dengan penderitaan tanpa tepi. Eh, jadi ingat perjalanan Sun Go Kong mencari kitab suci. Atau seperti kisah He Yan dalam kisah the Legend of Female General yang bercerita tentang seorang putri bangsawan yang berjuang untuk melindungi negaranya. Menggantikan abangnya yang telah meninggal.
Kehidupan He Yan yang keras dalam pelatihan militer atau kisah Sun Go Kong yang penuh dengan kesukaran dalam perjalanan mencapai tujuan adalah proses yang terus dijalani sepanjang hidup.
Dan, seperti halnya hal lain dalam kehidupan di dunia ini, bahagia dan derita itu datang sekejap. Tidak selamanya.
Yah, seperti saat kamu mampir ke kafe untuk minum kopi. Meskipun kafe itu indah dan nyaman, kamu harus tetap melanjutkan perjalanan.
Apakah aku pantas atau boleh merasakan bahagia?
Semua orang berhak dan boleh merasakan apa pun. Nggak ada yang bisa memenjarakan perasaan dan hati kita. Hanya diri kita yang membatasi dan membelenggu emosi yang kita miliki atas dasar rasa lain yang lebih utama. Cinta dan kasih sayang.
Rasa yang bikin kita bisa mengorbankan atau membatasi rasa bahagia diri sendiri. Seperti orang tua yang mencintai anak-anaknya. Mereka rela meninggalkan pelukan rumah yang nyaman demi memenuhi tanggung jawab sepiring nasi atau selembar baju bagi orang terkasih.
Dan, bahagia saat melihat senyum di wajah atau rasa yang melebihi bahagia diri sendiri. Ya kan?
Nanti, jangan kamu tanya seberapa besar lingkaran hidupmu saat kamu kenal arti bahagia ini. Percayalah, lingkaran itu makin mengecil seiring bertambahnya usiamu.
Ini bukan karena kamu nggak mencintai manusia. Bukan juga karena kamu nggak ingin merasakan tawa lepas bersama banyak orang yang terlihat bersenang-senang menikmati hidup.
Lingkaran pertemanan kamu makin mengecil, karena kamu tahu bahwa energimu terbatas. Dan, hanya orang-orang hebat yang bisa mengorbankan bahagia diri dan orang terdekatnya demi orang banyak. Dan, kalau pun bisa menyeimbangkan kedua hal ini. Aku pikir, dirimu lah yang akhirnya terlupakan atau hilang. Harga mahal yang nggak akan ada hadiahnya, kecuali ridho Allah.
Ah, dan, kamu tahu, saat ini pun aku sedang berpikir tentang orang-orang seperti adikku yang disebut orang ODGJ. Apakah mereka merasakan bahagia dibalik tawa tanpa sebab itu? Atau tawa mereka adalah tanda kebesaran Allah bahwa banyak hal di dunia ini yang kita nggak tahu jawabannya.
Apa pun itu, aku bersyukur bisa menceritakan ini. Dan, meski sekejap ada lega yang datang. Menggantikan batu penghimpit di dadaku. Ah, apakah itu bahagia?
Komentar
Posting Komentar