Facebook: Dunia Digital Pertama Sebelum Ngeblog

facebook-dunia-digital-pertama-sebelum-ngeblog


Ngomongin tentang dunia digital, sepertinya aku termasuk anak Facebook. Ah, ketahuan ya kalau aku termasuk anak milenial wkwk..

Aku ingat banget kalau dulu itu lihat Facebook rasanya keren banget. Apalagi pas bisa menyapa kenalan yang tinggal dari daerah lain. Bahkan, aku sempat dapat teman baru dari Makasar. Mbak Rahmah, pengusaha retail yang tinggal di Papua.

Oya, karena terkendala fasilitas gawai dan internet, aku termasuk anak yang gatek. Eh, aku emang orang yang gak terlalu aktif di medsos. Kalau pun scrolling, ya sebentar aja. Maklumlah, kuotanya gak cukup.

Mungkin itu sebabnya, aku baru kenal blog di sekitar tahun 2017an. Itu pun karena temanku Rika. Teman yang kukenal pas ikut pelatihan guru di LIA tahun 2016.

So, mungkin akan aku ceritakan padamu masa-masa seru sebelum kenal Facebook, saat kenal Facebook, dan masa setelah aku mulai kenal medsos selain Facebook. 

Dan, cerita ini mungkin nggak terpikir olehku sebelumnya. 

Masa-masa seru sebelum kenal Facebook 

Aku sih yakin banget kalau anak-anak yang terlahir di tahun 70an, nggak sampai 20% yang memiliki gawai. Beda banget kalau dibandingkan dengan anak zaman now yang bisa punya dua gawai. 

Aku sih sering memperhatikan anak-anak yang bahkan sulit untuk melunasi SPP, tapi bisa punya gawai keluaran terbaru. Anak-anak itu bisa update status sedang jalan-jalan di medsos yang mereka miliki, meskipun beli pena seharga Rp2.500 pun gak ada uangnya.

Duh, aku pikir, mungkin prioritas gawai bergeser. Dianggap lebih penting dibanding pendidikan dan beras.

Beda dengan dulu, anak-anak yang gak kenal gawai seperti aku, lebih banyak menghabiskan waktu bermain bersama. Secara nyata. 

Aku sering jalan kaki saat pulang sekolahku di SMKN 4 Bandar Lampung ke rumahku di Kedaton yang berjarak sekitar 5 km bareng teman-teman. Kami berjalan kaki sambil ngobrol dengan gembira. Kadang-kadang kami mampir dulu ke Gramedia atau Fajar Agung untuk sekedar numpang baca. Rasanya senang sekali.

Masa terhanyut sesaat dengan Facebook 

Aku sih lupa kapan awalnya main Facebook. Mungkin, karena aku gak terlalu intens sebagai Facebooker ya? wkwk..

Sekarang, pas aku lihat-lihat ulang akun Facebook ku, kok aku pingin ketawa sendiri. Lucu juga kita bisa lihat rekam jejak diri kita lewat media digital ini.

Lalu, aku pun mengingat kembali beberapa hal positif saat main Facebook 

1. Menyambung silaturahmi dengan teman lama. Aku sering ngobrol dengan Facebook messenger bermenit-menit dengan beberapa teman lama. Untungnya, Facebook kan saat itu sering bisa digunakan meskipun kuota udah habis.

2. Mengenal teman baru. Aku kenal beberapa teman baru. Salah satunya adalah mbak Rahma. Beliau kukenal karena aku sempat bisnis Oriflame. Kami bahkan sempat telponan. Mbak Rahmah ini orangnya baik dan ramah. Sangking baiknya, beliau pernah mengirim bingkisan saat pulang umroh. 

3. Media bisnis. Aku juga buka lapak di market place Facebook. Aku menjual barang-barang di warung ibuku sekaligus mengantarkan langsung ke konsumen. Aku ingat pernah mengantar barang di daerah dekat SD Xaverius. Kupikir dekat. Eh, ternyata naik gunung Sari yang jalan setapak. Jalannya kecil. Untung aja, motor tuaku itu gak melorot ke bawah. Duh, jantungku mau copot wkwk. Saat itu, aku sadar, di Bandar Lampung pun masih banyak rumah yang akses-nya cukup ekstrem. 

Dan, kalau dipikir-pikir, dunia mainku emang belum jauh banget. Tempat yang ada di dekatku pun aku belum tahu. Ah, aku makin sadar kalau pengetahuanku amatlah terbatas. Dan, aku makin mengerti bahwa pekerjaan tukang paket itu bukan pekerjaan yang tanpa risiko.

Masa mengenal medsos selain Facebook 

Setelah Facebook, aku pun kenal Instagram dan Twitter. Rasanya senang bisa scrolling Facebook, Instagram, dan Twitter untuk sekedar hiburan. Apalagi, aku bisa dapat beberapa hal berbeda dari ketiganya.

Kalau di Facebook, biasanya aku cek status teman-teman lama. Aku bisa tahu kondisi mereka, baik saat ada teman yang sakit, umroh, haji, pesta, atau saat mereka jalan-jalan ke suatu tempat. Bahkan, aku pun bisa tahu saat ada teman yang meninggal di Facebook. 

Ya, meskipun nggak bisa hadir, aku bisa menyampaikan rasa bela sungkawa, rasa ikut berbahagia, atau titip salam lewat Facebook. Bisa dibilang, Facebook jadi media penghubung bagi teman yang nggak bisa bertemu secara langsung.

Beda dengan Facebook, aku pikir Instagram lebih mengutamakan estetika. Ruang publik ini terlihat lebih eye catching. Dilihat dari kontennya sih lebih rapi dibandingkan FB yang random dan berisi orang-orang yang lebih beragam usianya. Meskipun mayoritas ya tetap orang-orang di atas 40 tahun.

Beda dengan FB dan Instagram, Twitter yang sekarang berganti nama jadi X ini lebih simple. Aku bisa nulis hal random dengan akses lebih luas. Pengguna akun X bisa menaikkan brand produk, brand musik, atau isu politik yang sedang hits. 

Sebut aja isu perang Iran yang diserang Amerika dan Israel yang mudah diakses lewat X. Bahkan akun X milik Iran di-update tiap 2 menit sekali. Begitupun akun pro Amerika dan Israel yang sibuk nge-X untuk menyebarkan propaganda anti Iran.

Aku pikir mungkin X memiliki algoritma yang lebih cocok untuk buzzer politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Hingga, aku sering lihat serbuan buzzer k-lover di X. 

Bisa dibilang akun X berisi konten yang lebih berat dibandingkan FB dan Instagram.

Facebook dunia digital pertama sebelum ngeblog

Aku pernah membayangkan dunia yang hadir tanpa medsos. Dunia tanpa distraksi yang gak perlu. Dunia sederhana tanpa internet yang memiliki dampak global yang merusak pola pikir generasi muda.

Tapi, sekali lagi, dunia ini gak sesederhana seperti 10 atau 20 tahun lalu. 

Hingga ruang Facebook sebagai dunia digital pertama bagiku sebelum ngeblog, tidaklah cukup menjadi ruang buat mengisi keresahan orang-orang sepertiku. 

Aku butuh ruang yang luas untuk menumpahkan kegelisahan dalam hatiku. Keresahan yang gak melulu tentang diriku, tapi juga tentang orang lain di sekitarku, dan dunia ini. 

Kenapa? Karena aku pikir, setiap diri adalah bagian dari komunitas. Seperti keluarga, lingkungan tetangga, pekerjaan, dan bagian suatu negara. Hingga pada akhirnya, apa pun yang aku pikir, rasa, dan lakukan, bisa saja memberi pengaruh dan kontribusi buat orang lain. 

Apalagi jika kita melakukan aktivitas tersebut di ruang publik. Termasuk medsos dan blog. 

Bedanya sih, dengan ngeblog, aku bisa lebih bebas menuangkan pikiran dan isi hatiku. 

Karena ngeblog juga, aku bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang suka berbagi pengetahuan, pengalaman, dan skills hidup yang berguna buatku. Skills dan pengetahuan yang aku bagikan pada anak-anak di kelasku. 

Selain mendapatkan pengetahuan dan teman  baru, aku pun  mendapatkan hadiah dan uang dari ngeblog. Meskipun nominal nya gak banyak, aku merasakan sensasi senang yang menghangatkan hatiku saat blogku mendapatkan uang.

Ah, mungkin itulah rasa bahagia saat hobimu dihargai orang lain ya. Senangnya pake banget. wkwkwk. 

Jujur, meskipun aku masih termasuk baru mengenal blog, aku bisa merasakan perasaan bangga sebagai blogger. Kenapa? Karena aku pikir, nggak semua orang mau jadi blogger. Di sekolah aja, blogger yang masih menulis, sepertinya hanya aku. Kebanyakan teman-teman sudah beralih ke YouTube, tiktok, atau media audiovisual lain.

Seperti yang disampaikan oleh seorang temanku, dunia ini bergerak dengan cepat. Termasuk kecenderungan tren yang lebih  suka hal instan, cepat, dan mudah dicerna serta menghibur, seperti: video pendek.  Hingga ngeblog pun harus lebih kreatif dengan menggabungkan media audiovisual sebagai sarana promosi atau pelengkap. 

Ah, terlepas apa pun itu, dunia Facebook sebagai dunia digital pertama bagiku selalu meninggalkan kesan mendalam. Ditambah blog yang hadir mewarnai hari-hariku di ruang digital. 

Harapan terbesarku adalah apa pun yang aku tulis atau publish di akun medsos ku dapat memberikan pengaruh positif bagi siapa pun yang membaca atau melihat postinganku. Semoga..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Siswa SMK : Oase yang Hampir Hilang

Belajar Arti Kejujuran dari Seorang Bakul Sayur

3 Tips to Speak English