Gaya Hidup Minimalis ala Keluargaku
Dan, aku pun jadi bingung. Kenapa saat harga emas naik, kok, toko emas banyak yang bangkrut? Eh, hal itu terjadi karena saat harga emas terlalu tinggi, maka orang akan cenderung tidak berbelanja. Alasan lain adalah bahan baku emas yang juga ikut melonjak mengakibatkan pedagang kehilangan modalnya untuk biaya bahan baku dan produksi. Belum lagi, kebiasaan orang Cina yang bukan main hemat itu.
Kebiasaan hidup minimalis orang Cina ini mengingatkan aku dengan banyak momen saat aku belanja di toko yang penjualnya orang Cina. Aku lihat ia masak sawi putih dengan pakaian kaos oblong dan celana pendeknya. Aku juga sering lihat beliau mengendarai sepeda atau jalan kaki. Padahal ia punya mobil. Eh, aku lihat anaknya mengendarai mobil dan jajan di restoran. Lalu, aku pikir, pantas aja beliau kaya. Bapaknya hidup hemat dan sangat minimalis.
Lalu, aku membandingkan dengan gaya hidup Minimalis ala keluargaku. Nanti, setelah kamu tahu, mungkin kamu bisa pikirkan mana yang lebih sesuai untuk kamu praktikkan sendiri.
Pointnya sih, bukan benar atau salah. Tapi, pada pilihan apakah gaya hidup yang kita ketahui, sesuai untuk dipraktikkan di rumah kita sendiri. Atau adakah aspek yang harus kita ubah atau adaptasikan untuk hidup yang lebih baik.
Seperti kisah temenku yang belajar dari kisah almarhum kakaknya. Hidup harus bisa dinikmati, katanya.
"Harta gak dibawa mati, Yo. Kalau mau belanja ya belanja aja..Jangan kayak mbakku yang baru ninggal itu. Ngirit banget. Kasian. Mbakku belum sempat menikmati hasil jerih payahnya sendiri.." Duh, jadi sedih ya?
Mendengar ucapan temanku itu, aku pun berpikir, kalau terlalu menikmati hidup atau boros juga bahaya kan? Nah, kalau sampai ada apa-apa, misalnya sakit atau mendadak ada keperluan dan nggak punya uang simpanan, kan tidak enak juga. Kalau sampai terlibat pinjol gara-gara kepepet keperluan hidup yang konsumtif itu kan lebih nggak relevan lagi. Ya kan?
Emang sih, mbak temen terkesan nggak menikmati hidup. Tapi, saat ia meninggal kemarin, kan keluarganya punya uang untuk mengurus keperluan anak-anaknya yang masih sekolah. Ah, paling nggak, aku sih berpikir dari segi positifnya. Meski begitu, aku mengambil hikmah dari dua kejadian di atas bahwa hidup itu harus seimbang.
Okey, sebelum tulisanku ini makin random dan kamu dan aku makin bingung wkwkwk, aku akan curhat sedikit tentang gaya hidup minimalis yang aku pahami selama ini.
Pengertian Gaya Hidup Minimalis
Kalau dalam bukunya Fumio Sasaki, "Goodbye, Things". digambarkan bagaimana pengertian minimalis ini adalah mengurangi barang fisik secara drastis untuk melepaskan diri dari materialisme, mengurangi stress, dan menemukan kebahagiaan sejati. Prinsip utamanya adalah hanya memiliki benda yang fungsional atau dibutuhkan saja.
Ah, mungkin ini pun bisa berlaku dalam semua aspek kehidupan kita, contohnya aja pas bulan Ramadan ini, kita hanya membeli makanan yang dibutuhkan saja. Tidak membeli atau mengonsumsi secara berlebihan, karena selain tidak sehat bagi tubuh, kantong pun bisa makin dalam kalau boros dalam berbelanja makanan. Ya kan?
Contohnya simple-nya sih, seperti ibuku, dulu ia sering belanja cincau, rumput laut, dan lain-lain untuk menu minuman aja. Belum lagi menu lauknya yang lebih dari satu. Akibatnya, meja pun penuh sesak dengan makanan yang beraneka ragam. Sayangnya, karena terlalu banyak, makanan dan minuman pun tidak habis. Mubazir kan?
Nah, belajar dari pengalaman masa lalu, ibu sekarang menganut gaya belanja minimalis, seperti: belanja cabe, garam, bawang, dan lain-lain sesuai kebutuhan agar bumbu-bumbu tersebut tidak terbuang karena rusak.
Beliau pun bikin minuman dari cincau yang dipetik dari samping rumah, bunga Telang di depan rumah, dan madu ternak sendiri. Ya, ditambah sirup marjan dan nata decoco yang dibeli pas diskon. So, lebih hemat.
Ibu juga sering memasak ulang makanan seperti tempe goreng yang tidak habis dimasak ulang dengan ditumis atau disambal. Lalu, nasi sisa yang digoreng atau dijadikan bakwan atau kerupuk nasi.
Gaya hidup minimalis yang biasa aku dan ibu lakukan di rumah adalah dengan menyesuaikan dan mengoptimalkan penggunaan barang yang kami butuhkan untuk kehidupan yang lebih sehat nggak hanya secara finansial, tapi juga jasmani dan rohani. Praktik yang kami lakukan di rumah adalah membelanjakan barang yang dibutuhkan saja, mere-cycle barang yang tak terpakai menjadi barang baru, dan memperbaiki barang yang ada agar dapat digunakan.
Membelanjakan barang yang Dibutuhkan saja
Selain belanja sayuran yang disesuaikan dengan minat, misalnya hari ini pengin makan sayur bayam, maka ibu hanya beli sayur bayam saja. Lalu, lauknya tempe atau ikan. Membeli hanya satu macam sayur saja, agar nggak mubazir karena sayur kan cepat layu atau nggak segar lagi.
Kamu bisa bandingkan dengan kebiasaan ibuku dulu yang sering masak dua atau tiga sayur sekaligus. Masak tumis tempe, kangkung, dan sup pada satu waktu, hanya karena bumbunya sama aja. Jadi, sayurnya sisa. Meskipun sisa sayur bisa dijadikan pakan ayam, tapi kan mubazir. Ya kan?
Sekarang sih kalau beli bumbu dapur, ibu beli sesuai daya tahan bumbu. Seperti bawang merah hanya beli seperempat saja, sedangkan bawang putih yang lebih awet ibu bisa beli satu kilogram. Kadang kalau sempat, ibu memblender bawang putih agar awet dan lebih praktis digunakan.
Selain belanja dapur sesuai kebutuhan, ibu juga mulai mengerem belanja baju baru. Dulu sih, ibu sering belanja baju atau jilbab baru. Biasanya ibu hanya pengin beli baju, eh, karena pengin menyesuaikan warnanya, beliau pun beli jilbab dan dilanjutkan dengan celana atau roknya juga. So, kamu bisa membayangkan berapa banyak baju baru ibu saat itu.
Untungnya, sekarang ibu sudah nggak seperti dulu. Kalau ditanya mau beli baju baru nggak? Beliau pasti bilang, "Baju mamak masih banyak yang bagus. Beli yang lain aja. Lagian, beli baju baru, emang mamak mau ke mana?" Aku pun hanya mengangguk aja. "Eh, kalau mau beliin, beli jilbab aja yang besar, supaya enak langsung dipakenya."
Eh, ujung-ujungnya masih beli juga wkwkwk..
Begitulah, baju lama ibu dipadu dengan jilbab baru. Tampilan ibu tetaplah memesona. Ah, jadi ingat betapa cantiknya ibu waktu muda dulu. hehehe..
Mere-cycle makanan sisa agar dapat dikonsumsi
Contoh sederhana mendaur ulang makanan yang biasa aku dan ibu lakukan di rumah adalah nasi sisa dijadikan nasi goreng, kerupuk nasi, atau bakwan nasi. Kadang juga aku dapat nasi sisa MBG anak-anak dari sekolah yang aku daur ulang jadi makanan ayam.
Cara mendaur ulang makanan MBG anak-anak biasanya aku campur dengan potongan sayur sisa di rumah dan dedak. Wah, ayam di rumah senang sekali. Alhamdullilah, kami pun bisa menikmati telur dan daging ayam rumahan yang sehat.
Alhamdulillah, kemarin kami menikmati sate ayam kalkun untuk menu puasa pertama. Hasan pun menyukai sate ayam kalkun pertamanya itu. "Enak banget," katanya.
Untuk kerupuk nasi, ibu biasanya mengukus ulang nasi sisa, lalu ditumbuk halus dan dibumbui dengan bawang putih, garam, kaldu jamur. Lalu, dibentuk gulungan seperti membuat mpek-mpek lenjer dan dimasukkan ke kulkas semalaman. Setelah itu, diiris tipis dan dijemur hingga kering. Kerupuk pun bisa digoreng. Kriuk.. enaaak.
Dan, aku pikir nasi goreng adalah cara legendaris untuk mendaur ulang nasi sisa. Selain enak, menu nasi goreng adalah hidangan penyelamat saat nggak ada lagi lauk di dapur. Aku jadi ingat, dulu, abah (almarhum bapak dari ibu) sering minta dibuatkan nasi goreng dengan bumbu mentega aja. Beliau suka sekali nasi goreng mentega.
Fyi, abah juga suka sekali dengan pisang terlalu matang yang hampir nggak bisa dimakan karena hampir busuk. Biasanya manis sekali, tapi kalau dimakan begitu saja, nggak begitu enak. Pisang ini kami olah menjadi lemet pisang. Pisang dicampur dengan ketan yang sudah dikukus dan dicampur dengan kelapa muda. Lalu, dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang. Ya, kurang lebih 20-30 menitan gitu. Dan, taa da.. pisang ketan kukus daun pisang pun siap. Wah, jadi ngiler deh wkwkwk..
Sebenarnya sih, masih banyak praktik mendaur ulang makanan sisa yang biasa kami lakukan, agar tidak mubazir. Ya, prinsip ibu kan pantang membuang makanan. Mungkin, itu sebabnya ibu dan bapak memelihara ayam dan ikan. Dan, itulah sebabnya, rumahku masih terasa seperti di kampung aja. Eh, itu kata temanku lho wkwkwk
Memperbaiki barang yang ada agar dapat digunakan
Karena prinsip pantang membuang barang itulah, maka di rumahku banyak barang lama bertumpuk. Sepatu, baju, kayu, hingga botol bekas. Kalau dipikir-pikir, kebiasaan ini sama sekali nggak sehat ya? Tapi, ya begitulah, old habits die hard. Dan, tanpa sadar aku pun mewarisi sifat ini. wkwkwk.
Aku kalau melihat barang plastik yang tergeletak di jalan, misalnya, rasanya sering tergelitik jiwa pemulungku untuk mengambilnya. Untungnya, rasa malu lebih besar, hingga aku dapat menahan diriku. Tapi, kamu tahu, bapakku sering pulang ke rumah dengan membawa rongsokan entah dari mana. Kadang bawa kayu, plastik, atau entah apa lagi.
Sering aku mendengar ponakanku Hasan bilang, "Kung bawa apa? Plastik ya? Untuk apa? Untuk nyangkok tanaman lagi, ya?" Dan, begitulah. Menumpuklah barang-barang bekas di rumah yang katanya dibuang sayang itu wkwkwk. Yah, ini sih bukan lagi hidup minimalis ya? Tapi, ngumpulin sampah. wkwkwk..
Ah, tapi anggap saja, barang-barang itu dapat digunakan ulang ya? Plastik-plastik yang dikumpulkan itu dijadikan bapak untuk plastik nyangkok atau untuk wadah atau pot tanaman. Sedangkan kayu-kayunya disortir, yang jelek untuk kayu bakar, sedangkan yang bagus dijadikan bangku kecil, hingga di rumahku ada beberapa bangku kecil hasil karya bapak. Ya, nggak begitu bagus sih, tapi fungsional. Not bad. wkwkwk
Perlukah Mengadopsi Gaya hidup Minimalis?
Sangat perlu. Apalagi, menurutku, aku sering melihat orang-orang yang kukenal cukup dekat, membeli barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
Contohnya seperti kebiasaan orang-orang tua di tempatku tinggal yang sering membeli panci, Tupperware, dan alat-alat dapur lain, hingga menumpuk di dapur. Dan, anehnya, mereka hanya menggunakan alat dapur yang itu-itu aja. "Sayang, ntar kalau dipake kan rusak." Gitu alasan mereka.
Beberapa ibu lain mengoleksi alat-alat dapur, katanya untuk anaknya nanti. Dan, aku hanya mengangguk aja. Takut berkomentar sambil melihat dapur ibu tersebut yang penuh sesak barang dari panci, wajan, dan lain-lain.
Aku melihatnya aja rasanya pengen menarik napas dalam-dalam. Kan lagi puasa.. hehe. Nggak boleh ngomongin orang.
Karena dapurnya penuh sesak, aku lihat ibu tersebut sering kesulitan untuk meletakkan barang baru.
Beda banget dengan gaya hidup Jose Mujica, seorang presiden Uruguay yang hidup super sederhana di rumah istrinya. Ada juga Mahmoud Ahmadinejad, mantan presiden Iran, yang pergi ke mana-mana menggunakan kendaraan umum dengan pakaian sederhananya seperti orang biasa.
Ah, aku jadi ingat tentang pembahasan gaya hidup Rasulullah yang sangat sederhana. Di rumah penghulu para Nabi itu hanya ada barang-barang yang sangat fungsional dari selembar tikar dan dipan sederhana.
Rasulullah mengutamakan prinsip qanaah (merasa cukup) dengan mengutamakan keberkahan dibandingkan kemewahan dunia.
Aku pikir, prinsip qanaah inilah yang harus aku adopsi. Berpuas diri dengan apa yang dimiliki sambil mengoreksi diri agar jadi manusia yang lebih baik.
Tips Sederhana Hidup Minimalis
Kata adikku sih, kita harus belajar mengaplikasikan tips sederhana hidup minimalis, agar hidup lebih lega.
- Mulai mendata barang yang dimiliki.
- Menyortir barang yang masih layak dan yang harus dibuang
- Menyumbangkan barang yang masih layak dan membuang atau mendaur ulang yang sudah nggak layak pakai, seperti baju tidak layak pakai bisa dijadikan sarung bantal, topi, atau lap.
- Dan jika harus membeli produk satu baju, maka kita harus menyumbangkan satu baju juga.
Ah, mungkin itu aja tipsnya ya? Jika kamu punya tips lain, silahkan dikembangkan sesuai kebiasaan di rumah. Prinsipnya adalah hidup yang sehat dan bahagia. Gimana? Setuju kan?


Komentar
Posting Komentar