Postingan

Menampilkan postingan dengan label stories

Bunga di Musim Kemarau Part 3

Malam menenggelamkan kehangatan dalam selimut tebal rumah-rumah bertembok tinggi Tangisan dan rintihan yang lapar pun hanya menyentuh dinding-dinding dingin hati yang telah terpenjara benci dan tak peduli. "Yuk, pulang.." Hara berkata lirih. Setelah lebih dari dua jam ia menunggu Amy dan Ana terduduk di depan pusara Yada. "Malam sudah larut. Udara juga sangat dingin. Sepertinya akan turun hujan." Amy mangangguk. Ia berdiri perlahan, dan memegang bahu adiknya. Membantunya berdiri. Tubuh Ana sangat dingin. "Ana, kamu nggak pa-pa, kan?" Ana tersenyum lemah. Belum sempat Ana menjawab pertanyaan Amy, tubuh Ana lunglai. Pingsan. Untunglah, Hara yang berdiri di dekatnya dengan sigap menahan tubuh Ana yang hampir jatuh ke tanah kuburan.  Hara dengan hati-hati mengangkat tubuh Ana. Membawanya ke dalam mushola. Umi Naqi dan umi Heni yang melihat mereka segera mengambil selimut dan memberikan minyak angin pada Amy. "Sepertinya adikmu belum makan

Bunga di Musim Kemarau part 2

Gambar
Cinta yang mati itu pun menggelepar Menyisakan mimpi yang bagai buih di bentangan samudra sumber gambar (fixabay.com) Amy meletakkan tangannya di kulit dingin Yada, kakaknya. Mata Amy nanar menatap ruang mayat yang dingin. Tak ada siapa pun kecuali mayat-mayat yang tergeletak di atas kasur tipis itu. Hara yang berdiri di sampingnya mengangguk. Perlahan ia mengangkat mayat Yada dan meletakkannya di brankar dorong yang telah mereka siapkan. "Dokumen rumah sakit sudah beres, Kak?" Amy memandang Hara yang sibuk merapikan selimut Yada. Hara  mengangguk. Menepuk saku bajunya. Malam ini Hara membantu sahabatnya bertugas di kamar mayat. Jadi ia bisa bantu Amy mengurus mayat Yada. Meski tak begitu mengenal Yada, ia kasihan melihat mayatnya yang belum juga dikuburkan. Ia juga kasihan melihat Amy dan Ana. "Kak, gimana?" "Jangan khawatir, kak Pirman sudah mengijinkan kak Yada dikuburkan di kampung tetangga malam ini. Kuburan sudah siap. Tukang gali dan

Bunga di Musim Kemarau Part 1

Langit terang. Daun-daun pun terlihat beterbangan. Tertiup angin. Kering. Menyisakan pohon-pohon yang meranggas di bulan Oktober. Meninggalkan harapan yang kian menipis dimakan waktu. Amy menghembuskan nafasnya, memandang wajah adiknya, Ana, yang menekur di lantai.  "Kamu tak berpikir bahwa yang kita lakukan ini menyalahi hukum, Kak?" "Kita tak bisa membiarkan mereka tidak menguburkan kak Yada di kuburan yang layak, karena ia  bekas seorang penjahat." Ana mendongakkan wajahnya. Memandang wajah kakaknya. Wajah Ana bersimbah air mata. Basah. "Seandainya kita punya pilihan lain, Kak." Ana menjawab lirih. Tangannya menyapu air mata yang terus menetes di wajahnya.  Amy mengepalkan tangannya. "Kalau saja aku laki-laki. Aku akan melawan mereka." Ana tercekat mendengar ucapan kakaknya.  Ia menutup wajahnya. Air matanya kian deras mengalir di wajahnya. Amy mendekati adiknya dan memeluknya dengan sayang. "Jangan khawatir, Kakak n